Ustadz Ba’asyir Tak Takut Ditangkap Lagi

10 May

Ba’asyir Tak Takut Ditangkap Lagi

Padahal, beberapa ulama dan habaib mengkhawatirkan jika Ba’asyir harus ditangkap lagi.

Senin, 10 Mei 2010, 11:54 WIB

Amril Amarullah

Abu Bakar Ba’asyir 4 (VIVANews/ Tri Saputro)

SURABAYA POST – Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Ustadz Abu Bakar Ba’asyir tidak khawatir dengan adanya penangkapan tujuh orang yang diduga teroris di markas JAT, Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Bahkan dia menyatakan tidak takut jika ditangkap kembali. Padahal, beberapa ulama dan habaib mengkhawatirkan jika selanjutnya dirinya akan ditangkap kembali.

"Oh nggak. Saya nggak khawatir. Mereka itu terdorong oleh rasa ukhuwah karena ada satu saudaranya yang diancam dan dimusuhi. Pasti akan membela. Itu bukan masalah khawatir," kata pegasuh Pondok Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo, kemarin malam.

Selanjutnya, dia mengaku jika kondisi ini dilihat secara dhohir memang tampaknya akan terjadi penangkapan kembali seperti dulu. "Orang bilang memang akan terjadi seperti itu. Tetapi bagi saya itu tidak masalah," tuturnya.

Sebagai seorang Amir Jamaah Anshorut Tauhid, Ustadz Ba’asyir mengaku akan bertanggung jawab. Meskipun begitu, dirinya akan tetap melakukan dakwah seperti biasanya. "Ya, dakwah tetap akan jalan terus. Tujuan juga jalan terus. Memang Menegakkan Islam itu sunatullah dan banyak halangan," kata dia.

Dia mengakui ada kemungkinan penangkapan tujuh orang itu adalah upaya menyeret nama dirinya. "Jelas-jelas itu akan menyeret saya. Mereka itu selalu sentimen dengan saya. Terutama Amerika. Bagaimana supaya saya tidak di masyarakat lagi," kata Ba’asyir.

Bahkan, Ustadz Ba’syir menyebut intelejen Amerika, CIA , menasehati televisi agar tidak memberitakan dirinya setelah lepas dari penjara. "Mereka maunya jangan banyak televisi yang memanggil saya supaya tidak kenal lagi. Memang maunya Amerika itu saya ditahan sampai tidak ada di masyarakat atau mati," tegasnya.

Mengenai langkah antisipasi apa yang dilakukan oleh JAT, dia mengatakan, "JAT itu apa adanya dan terang-terangan. Bahkan, setiap ada pengajian yang isinya selalu diketahui oleh Polisi.

Sementara Tim Detasemen Khusus 88 tidak menemukan bukti kuat terkait jaringan teroris dari empat orang yang ditangkap di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Penangkapan ini setelah penggerebekan 12 orang di Cikarang.

"Saat penggerebekan yang berlangsung pada tanggal 6 Mei 2010 di Kecamatan Setu, tim Densus 88 hanya membawa satu kendaraan jenis Honda Jazz berwarna hitam milik tersangka. Tidak ada barang bukti apa pun yang dibawa dari rumah para tersangka," ujar Kapolsek Setu, AKP Ipik Gandamanah, di Cikarang, kemarin.

Berdasarkan keterangan Ipik, penangkapan berlangsung sekitar pukul 17.00. Tim Densus 88 menangkap empat orang Haryadi Usman, Haris Alfalah, Hendro Sulthon dan Lulu yang merupakan istri dari tersangka Haryadi Usman.

Kronologis penyergapan, kata dia, dilakukan Densus 88 ketika keempat tersangka tengah makan sore di salah satu rumah makan bernama Minano yang berlokasi di Kampung Cijengkol RT03 RW09, Desa Cijengkol, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi.

"Tim Densus 88 yang berjumlah empat orang dipimpin oleh AKP Shodiq langsung menyergap mereka di rumah makan itu tanpa adanya perlawanan apa pun," kata Ipik.

Setelah keempat tersangka diamankan, kata dia, Densus 88 langsung membawa mereka ke dalam sebuah mobil untuk dibawa ke Mabes Polri, sedangkan mobil milik salah satu tersangka jenis Honda Jazz berwarna hitam diamankan petugas.

Satu unit sepeda motor milik tersangka lainnya jenis Honda Vario berwarna merah dengan nomor polisi B 6358 SNF ditinggal di lokasi kejadian. "Tersangka suami istri, yakni Haryadi Usman dan Lulu sebelumnya sudah diintai Densus 88 di rumah lamanya Perumahan Narogong Indah, Jalan Gema 9 nomor 12-13, Kecamatan Rawa Lumbu, Kota Bekasi," ujarnya.

Ipik menambahkan, penangkapan terhadap kedua pasangan suami istri itu di wilayah setu bekasi, karena yang bersangkutan telah berencana pindah pada pekan ini ke Perumahan Grand Residence di Blok RR, nomor 238, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi.

Dijelaskan Ipik, Densus 88 pada tanggal 7 Mei 2010 sekitar pukul 19.00, tim Densus kembali melanjutkan pencarian barang bukti dengan menggeledah rumah yang berada di Grand Residence yang hasilnya tidak diketemukan barang-barang ataupun benda yang mencurigakan terkait teroris.

"Sementara rumah lama tersangka Lulu yang berlokasi di Narogong, Kota Bekasi, tim Densus 88 sempat membawa bukti-bukti untuk dijadikan petunjuk penyelidikan lanjutan dalam bentuk sejumlah dokumen keagamaan," ujarnya.

Penggerebekan oleh Densus 88 di wilayah Kecamatan Setu, berlangsung lancar, tidak ada kegaduhan apa pun dalam aktifitas tersebut hingga masyarakat sekitar tidak mengetahui kegiatan itu.

Namun, masyarakat setempat baru menyadari adanya penggerebekan tersangka teroris setelah petugas Polsek Setu melakukan pengecekan ke lokasi. (adi)

http://jatim.vivanews.com/news/read/149948-ba_asyir_tak_takut_ditangkap_lagi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: