Thogut, Ka’ab dan Obama

29 Mar

·

Seorang perwira tinggi Polri dengan antusias menyampaikan

pengalaman dakwahnya di depan para ustadz dan pengurus masjid-masjid di bilangan Jakarta Timur. Pati yang klimis ini menyampaikan bahwa berkat kedekatan kepada Allah serta disiplin sholat berjamaah itu dirinya diberi kemenangan oleh Allah dalam mengalahkan musuh.

Di Poso beliau bersama rekan-rekannya berhasil menumpas para teroris. Beliau juga merasa gerah dengan mereka. “Masak para teroris itu mengatakan bahwa kami adalah polisi thaghut?. Padahal kami polisi beriman dan rajin sholat berjamaah,” katanya.

Thaghut adalah istilah dalam bahasa Arab yang juga digunakan dalam sejumlah ayat Al Quran. Secara bahasa thaghut berasal dari kata thagha yang artinya melampui batas. Thughyan artinya kezaliman, thaghiyah artinya yang sewenang-wenang dan thaaghut artinya sesuatu yang disembah selain Allah. Allah SWT menggunakan kalimat thaghut dalam firman-Nya:

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. .. "(QS. An Nisa 60).

Menurut tafsir Jalalain, thaghut artinya banyak berbuat kezaliman, dan dia adalah Ka’ab bin Al Asyraf. Ka’ab adalah pembesar Yahudi yang suka membuat syair-syair yang menyanjung-nyanjung (merayu-rayu) para wanita muslimah. Menyakiti hati kaum muslimin. Rasulullah saw. meminta kepada para sahabat siapa yang akan mengesekusi Ka’ab?. Maka Muhammad bin Maslamah bersedia melakukannya hingga tewaslah Ka’ab sang thaghut itu (lihat Sirah Ibnu Hisyam, Juz 2/54).

Jadi thaghut adalah penguasa yang melampuai batas dan yang menyerang Islam dan umat Islam.

Obama adalah kepala negara AS yang menjajah Irak dan Afghanistan. Pasca kemerdekaan negara-negara jajahan colonial Eropa, AS mengambil alih dengan modus penjajahan baru, yakni dengan bantuan keuangan melalui Marshall Plan, menggantikan system penjajahan fisik.

Watak eksploitatif dari imperialisme AS dan sekutu baratnya tidak akan pernah hilang selama mereka masih mengadopsi ideology kapitalisme. Dan untuk itu, bila diperlukan penggunaaan kekuatan fisik, maka mereka akan tempuh, seperti serangan yang dilancarkan ke Irak dan Afghanistan. Bush mengatakan AS akan melakukan pre-emtive strike, dengan mandat atau tanpa mandat PBB. Perang yang tadinya disebut perang salib pun diubah menjadi war on terrorism.

Melalui perang itu AS memaksakan demokrasi di Irak dan Afghanistan. Perang yang dilancarkan AS di Irak telah menewaskan 1 juta kaum muslimin di Irak dan ratusan ribu kaum muslimin di Afghanistan. Sekalipun alasan perang yakni senjata pemusnah massal tidak ditemukan dan Saddam Husein sudah lama dieksekusi, AS belum juga menarik tuntas pasukannya di Irak. Obama masih menyisakan 55 ribu pasukan di Irak. Obama yang pernah sekolah di Menteng menambah jumlah pasukan AS di Afghanistan untuk memerangi Taliban. Ditambah 30 ribu pasukan baru hingga total jadi 140 ribu. Plus 15 ribu pasukan NATO. Baru-baru ini pasukan AS melakukan serangan terbesar di Helmand Afghan Selatan dan sedang menyiapkan perang terhadap kotaKandahar, basis pasukan mujahidin Thaliban.

Obama telah membunuhi kaum muslimin. Jauh lebih besar bentuk permusuhannya dibandingkan dengan leluhurnya Ka’ab bin Al Asyraf. Kalau Ka’ab disebut thaghut, apalagi Obama!

Obama akan datang ke Indonesia dengan sedemikian mudah karena SBY mengatakan AS adalah the my second country. Dan sejak berdirinya republic ini penguasa telah mencantolkan nasib bangsa muslim terbesar ini kepada AS. Utang Orla. Utang Orba. Utang rezim reformasi terus membengkak. Dalam bidang intelijen perintisan intelijen kita dilatih oleh AS. Para perwira pun mendapat program International Military Education and Training (IMET). Wakil Menlu AS Robert Zoellick (7/5/2005) mengatakan."Salah satu contoh keberhasilan IMET adalah pria yang saat ini sudah menjadi presiden,"

Bahkan pasca bom Bali dibentuk densus 88 dengan dananya bantuan AS. Maka kalau ada yang menengarai bahwa Densus menjadi operator program war on terorisme adalah hal yang lumrah. Menyinggung kasus Poso dan Ambon memang memprihatinkan. Umat Islam diserang oleh kaum non muslim di negeri yang mayoritas muslim ini. Ribuan umat Islam wafat dan terusir dari kampung halamannya. Ketika umat Islam membela diri, mereka tiba-tiba dapat cap teroris.

Mudah-mudahan pati Polri yang perlente itu akan memformat ulang pemahaman dan persepsi beliau tentang Islam, umat Islam, imperialisme, dan terorisme. Wallahua’lam!

http://www.suara-islam.com/news/muhasabah/komentar-mak/620-thogut-kaab-dan-obama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: