Jadi Apa kita Dengan Sekularisasi

15 Dec

Penulis: Rifky Ramdhoni

Pippa Norris dan Ronald Inglehart, menulis dalam buku The Secularization Debate, mengenai definisi dari Sekularisasi. “Secularization (or Secularisation) refers to the transformation of a society from close identification with religious values and institutions toward non-religious (or "irreligious") values and secular institutions. Secularisation thesis refers to the belief that as societies progress, particularly through modernization and rationalization, religion loses its authority in all aspects of social life and governance.[1]
Dari definisi di atas dapat lihat bahwa akhirnya sekularisasi adalah kesombongan manusia terhadap Allah. Bahkan bisa menjadi atheis, tidak percaya keberadaan Allah. Agama, dari definisi diatas harus minggir dari seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pemerintahan.

Bila agama dipinggirkan, dibuang jauh-jauh, maka apa yang dipakai sebagai timbangan baik-buruk, salah-benar dalam kehidupan? Para penganut paham sesat ini menepuk dada bahwa manusia adalah sebagai timbangannya. Manusia mana yang pantas jadi timbangan? Pada akhirnya orang-orang ini akan sampai pada titik kehilangan timbangan. Kemudian memang mereka menganut paham relativisme, tidak ada lagi kebenaran, tidak ada lagi salah, semua menjadi serba relatif.

Apakah berbahaya? Tentu saja. Saya akan ambil contoh ekstrim. Misalnya, Seorang pria sekular secara jelas memperkosa seorang wanita. Dalam pandangan orang sekular yang menganut paham relativisme maka pria ini tidak akan bisa disalahkan. Karena dia melepas diri dari semua timbangan kecuali timbangan hawa nafsu nya, dia akan memberi penilaian bahwa perbuatan itu adalah hak nya. Dia bisa berkata : “Siapa yang berhak menghukumi saya? Tidak ada! Ini Hak saya! Menurut saya ini adalah tidak apa-apa. Siapa bilang menyetubuhi secara paksa seorang wanita yang belum saya nikahi adalah terlarang? Hukum negara? Negara tidak berhak menghukumi saya. Ini adalah urusan saya dengan Tuhan, bilapun Tuhan itu ada. Anda tidak berhak menghukumi saya. Bila anda menghukumi saya maka anda berlagak seperti Tuhan. Menurut saya ini adalah hal biasa saja, walau menurut anda adalah salah. Memangnya anda berhak menilai saya benar atau salah?”

Tentu anda juga dapat membayangkan bila seorang pencuri merampok uang negara ratusan trilyun maka si pencuri itu akan berkilah atas nama paham sekular bahwa ia tidak berhak dihukumi. Dalam Islam, dan agama-agama samawi didapati bahwa mencuri adalah kesalahan. Karena si pencuri menolak agama maka dia merasa tidak berhak dihukumi. Padahal apa yang akan dia pakai sebagai timbangan salah dan benar?

Dalam literatur islam tidak akan ditemui sekularisasi, yaitu pemisahan islam dari kehidupan muslim. Konsep ini hanya dapat ditemui dalam dunia kristen. Sekularisasi ini kemudian dipaksakan masuk ke dalam islam dan diterima dengan bangga oleh segelintir orang yang masih mengaku muslim pada akhir abad 20 ini. Padahal Islam adalah satu paket menyeluruh untuk kehidupan manusia. Tidak bisa dipisah-pisahkan. Bila sudah dipisah-pisahkan antara Islam dan kehidupan maka rusaklah Islamnya dan bahkan bisa dikata lenyaplah Islam. Naudzubillah.

Masyarakat sekular eropa, marilah kita lihat ada apa dengan mereka. Free sex, narkotika, homosexual, lesbian, perampasan hak, eksploitasi manusia(bila tidak ingin disebut perbudakan), riba, pornografi adalah contoh hal-hal yang menjadi legal dikehidupan mereka. Apakah kita ingin seperti mereka dengan menjadi sekular?

Mereka mengatakan bahwa same-sex marriage adalah hak asasi manusia. Lihatlah sekularisasi, kemudian melahirkan anak setan yang bernama hak asasi manusia.

Pada October 1989, Denmark menjadi negara pertama yang memperkenalkan “same sex union” dalam bentuk registered partnerships. Di tahun 2001, Netherlands menjadi negara pertama yang membolehkan perkawinan sejenis. Di tahun 2003 Belgia pun mengekor, Spanyol (2005), Canada (2005), Norwegia dan Swedia (2009).[2]

Parlemen Kanada menyetujui pemberian dan pengakuan atas perkawinan sejenis dengan mendefinisikan perkawinan sebagai "persatuan sah dua orang dengan mengesampingkan semua orang lain" pada bulan Juli 2005. Sebuah gerak Pemerintah Konservatif mengundang anggota parlemen untuk meminta pencabutan perkawinan sejenis di Kanada gagal pada Desember 2006, sehingga perkawinan sesama jenis terus berlanjut di Kanada.. [3] . Wahai muslim! Apakah kita ingin seperti mereka?

Aliran-aliran sesat yang marak di Indonesia sebenarnya adalah salah satu hasil dari sekularisasi. Karena negara membiarkan aliran sesat tersebut berkembang, menghina, menodai ajaran Islam yang lurus. Negara dianggap tidak boleh mencampuri urusan agama. Negara betul-betul terpisah dari agama. Sementara Islam juga adalah termasuk bagaimana mengurus negara. Atas nama demokrasi negara membiarkan penghinaan terhadap Rasulullah SAW. Bahkan menjadi terbalik, para ulama, ustadz yang menyuarakan pelurusan aqidah ditangkapi karena dianggap menyebarkan kebencian, melanggar hak orang (sesat) menjalankan keyakinannya.

  1. ^ The Secularization Debate Pippa Norris and Ronald Inglehart, Sacred and Secular. Religion and Politics Worldwide, CambridgeUniversity Press, 2004. Chapter 1.
  2. ^ "Hindustan Times" (a news outlet in India) Article dated November 19, 2008
  3. ^ Canadians for Equal Marriage News Article dates December 7, 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: