JIL Menyerukan Pembaharuan Ala Pendeta

14 Oct

Penulis: Ustadz Muhammad Arifin Badri

Segala puji serta syukur hanya milik Allah Ta’ala yang telah berjanji akan melindungi agama ini sehingga akan tetap terjaga keutuhan dan kemurniannya hingga akhir masa.

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharannya.” (QS. Al Hijr: 9)

Betapa banyak campur tangan manusia dengan berbagai wujudnya, sehingga walaupun agama Islam telah menyebar ke seluruh penjuru dunia dan pemeluknya telah mencapai 1/5 dari seluruh penduduk bumi, syari’at Islam menjadi asing di mata ummatnya sendiri, apalagi di mata selain mereka.

Fenomena ini membuktikan kebenaran sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam:

عن أبي هريرة قال قال رسول الله صلى الله عليه و سلم: (بدأ الإسلام غريبا وسيعود كما بدأ غريبا فطوبى للغرباء) رواه مسلم

“Dari sahabat Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Sesungguhnya agama Islam datang dalam keadaan asing, dan suatu saat akan kembali menjadi asing, maka keberuntungan (surga) akan diperoleh oleh orang-orang yang asing.’” (HRS Muslim)

Imam Ar Rafi’i berkata: “Agama Islam pertama kali dikatakan asing karena agama Islam sangat menyelisihi tradisi masyarakat kala itu, berupa kesyirikan, dan berbagai perbuatan jahiliyyah. Dan Islam akan kembali asing, dikarenakan kerusakan yang menimpa masyarakat, dan munculnya berbagai fitnah, dan karena mereka mencampakkan jauh-jauh segala konsekwensi keimanan yang benar.” (At Tadwin fi Akhbar Al Qazwin, oleh Imam Ar Rafi’i, 1/139-140).

Walau demikian, kaum muslimin tidak perlu berkecil hati, tidak perlu ragu dan bimbang, apalagi menggadaikan prinsip dan aqidahnya, sebab Allah Ta’ala telah berjanji akan menjaga agama ini, dan senantiasa akan membangkitkan dari ummat Islam orang-orang yang akan berjuang menghidupkan kemurnian syari’at Islam yang telah ditinggalkan oleh manusia dan membersihkan segala penyelewengan yang dilengketkan kepadanya.

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله قال: إن الله يبعث لهذه الأمة على رأس كل مائة سنة من يجدد لها دينها. رواه أبو داود والحاكم والبيهقي وصححه الألباني

“Dari sahabat Abu Hurairah rodiallahu ‘anhu dari Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya Allah akan senantiasa mengutus (membangkitkan) untuk umat ini pada setiap penghujung seratus tahun, orang-orang yang akan memperbaharui agama mereka.” (Riwayat Abu Dawud, Al Hakim, Al Baihaqi dan dishahihkan oleh Al Albani)

Ibnul Qayyim berkata: “Seandainya bukan karena adanya jaminan dari Allah yang akan senantiasa menjaga agama-Nya, dan janji Allah Ta’ala akan membangkitkan orang-orang yang akan memperbaharui rambu-rambu agama-Nya dan menghidupkan kembali syari’at-syari’at yang telah ditinggalkan oleh para penjaja kebatilan, dan menyegarkan segala yang telah dijadikan layu oleh orang-orang bodoh, niscaya tonggak-tonggak agama Islam akan tergoyahkan, dan menjadi rapuh bangunannya. Akan tetapi Allah Maha Memiliki karunia atas alam semesta.” (Madarijus Salikin, oleh Ibnul Qayyim 3/79).

Imam Ahmad bin Hambal berkata: “Sesungguhnya Allah akan senantiasa membangkitkan untuk ummat ini pada setiap penghujung seratus tahun (setiap abad) orang-orang yang akan mengajari mereka as sunnah, dan menepis segala kedustaan atas Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, kemudian kami perhatikan, ternyata pada penghujung abad pertama ada Umar bin Abdul Aziz, dan pada penghujung abad kedua ada Imam As Syafi’i.” (Siyar A’alam An Nubala’ oleh Az Zahabi 10/46).

“Dari hadits dan beberapa penjelasan ulama’ diatas, dapat dipahami bahwa seorang mujaddid (pembaharu) tidaklah mungkin kecuali seorang ulama’ yang menguasai ilmu agama, disamping itu ulama’ tersebut cita-cita dan tekadnya siang dan malam ialah menghidupkan as sunnah, mengajarkannya, dan membela orang-orang yang mengamalkannya. Sebagaimana ia juga berjuang untuk menghapuskan praktek-praktek bid’ah, dan hal yang diada-adakan, serta memerangi para pelakunya, baik dengan lisan, tulisan, pendidikan atau dengan lainnya. Dan orang yang tidak memiliki kriteria demikian ini tidak dapat dikatakan sebagai seorang mujaddid (pembaharu), walaupun ia berilmu luas, dikenal oleh setiap orang, dan sebagai tempat mereka bertanya.” (‘Aunul Ma’bud, oleh Syamsu Al Haq Al ‘Azhim Abadi, 11/263).

Inilah pembaharuan yang ada dalam agama Islam, yaitu pembaharuan dalam wujud menghidupkan kembali ajaran syari’at yang telah ditinggalkan oleh masyarakat, dan memerangi penyelewengan yang telah merajalela. Dan sebagaimana disebutkan oleh Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah, bahwa mujaddid (pembaharu) abad pertama ialah khalifah Umar bin Abdul Aziz, dan pada abad kedua adalah Imam As Syafi’i, rahimahumallah. Sejarah telah membuktikan bahwa yang dilakukan oleh kedua orang ini adalah menghidupkan sunnah, memerangi bid’ah, dan mengembalikan metode berfikir masyarakat dalam beragama kepada metode yang diajarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam kepada sahabatnya, yaitu tidak fanatik terhadap golongan, dan hanya Al Qur’an dan As Sunnah yang menjadi tolok ukur kebenaran.

Adapun pembaharuan atau penyegaran yang diajarkan oleh JIL, maka sangat berbeda dengan pembaharuan yang telah dipaparkan di atas. Penyegaran yang diajarkan oleh JIL, adalah dengan cara mematikan syari’at, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, sebagaimana yang tertera dalam ucapan UAA berikut ini:

“Aspek-aspek Islam yang merupakan cerminan kebudayaan Arab, misalnya, tidak usah diikuti. Contoh: soal jilbab, potong tangan, qishash, rajam, jenggot, jubah, tidak wajib diikuti, karena itu hanya ekspresi lokal partikular Islam di Arab.” (Islam Liberal & Fundamental, hal. 8, baca juga hal. 12, 14 & 245).

Dan dalam ucapannya berikut:

“Setiap doktrin yang hendak membentuk tembok antara ‘kami’ dan ‘mereka’ antara hizb Allah (golongan Allah) dan hizb syaithan (golongan setan) dengan penafsiran yang sempit atas dua kata itu, antara ‘Barat’ dan ‘Islam’; doktrin demikian adalah penyakit sosial yang akan menghancurkan nilai dasar Islam itu sendiri, nilai tentang kesederajatan umat manusia, nilai tentang manusia sebagai warga dunia yang satu.” (Idem, hal. 14).

Dengan jelas UAA mengajak umat Islam untuk mematikan syari’at dan mencampakkannya jauh-jauh dari kehidupan masyarakat.

Bukan hanya sekedar mematikan ajaran syari’at, bahkan sebaliknya, yaitu menghidupkan bid’ah dan kekufuran, sebagaimana yang tertera dalam ucapan UAA berikut:

“Dengan tanpa rasa sungkan dan kikuk, saya mengatakan: semua agama adalah tepat berada pada jalan seperti ini, jalan panjang menuju Yang Maha Benar. Semua agama, dengan demikian, adalah benar, dengan variasi, tingkat dan kadar kedalaman yang berbeda-beda dalam menghayati jalan religiusitas itu. Semua agama ada dalam keluarga besar yang sama, yaitu keluarga pencinta jalan menuju kebenaran yang tak pernah ada ujungnya.” (Idem, hal. 15).

Penyegaran yang diajarkan oleh JIL, ternyata tidak hanya berhenti pada menghidupkan kekufuran, akan tetapi bahkan ingin menggantikan agama Islam dengan agama lainnya, sebagaimana yang tertera dalam ucapan UAA berikut:

“Umat Islam harus berijtihad mencari formula baru dalam menerjemahkan nilai-nilai itu dalam konteks kehidupan mereka sendiri. “Islam”nya Rasul di Madinah adalah salah satu kemungkinan menerjemahkan Islam yang universal di muka Bumi; ada kemungkinan lain untuk menerjemahkan Islam dengan cara lain dalam konteks yang lain pula. Islam di Madinah adalah one among others, salah satu jenis Islam yang hadir di muka Bumi.” (Idem, hal. 10).

Agar kita semua tahu, sebenarnya penyegaran (pembaharuan) model siapakah yang sedang dipropagandakan oleh JIL -yaitu dengan cara menghalalkan yang haram, dan menghalalkan yang haram, dan merekayasa agama seenaknya sendiri- saya ajak para pembaca untuk mencermati hadits berikut:

عن عدي بن حاتم رضي الله عنه قال: أتيت النبي صلى الله عليه و سلم وفي عنقي صليب من ذهب، فقال: يا عدي اطرح هذا الوثن من عنقك. فطرحته، فانتهيت إليه وهو يقرأ سورة براءة، فقرأ هذه الآية: اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله. حتى فرغ منها، فقلت: إنا لسنا

نعبدهم. فقال: أليس يحرمون ما أحل الله فتحرمونه، ويحلون ما حرم الله فتستحلونه؟ قلت: بلى. قال: فتلك عبادتهم. رواه الترمذي والطبراني والبيهقي وحسنه الألباني.

“Diriwayatkan dari sahabat ‘Adi bin Haatim rodiallahu ‘anhu, ie mengisahkan: (Pada suatu saat) aku datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan di leherku tergantung sebuah salib yang terbuat dari emas, maka beliau berkata: ‘Wahai ‘Adi,campakkanlah berhala ini dari lehermu!’ Maka aku pun mencampakkannya. Dan Ketika (tadi) aku sampai kepadanya, beliau sedang membaca surat Al Bara’ah (At Taubah), dan beliau membaca ayat: ‘Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib (pendeta-pendeta) mereka sebagai tuhan selain Allah.’ beliau membaca ayat tersebut hingga selesai. Kemudian aku pun berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu tidak pernah beribadah kepada mereka (para pendeta dan orang-orang alim).’ Maka Rasulullah-pun bersabda: ‘Bukankah mereka (para pendeta) mengharamkan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah, kemudian kalian juga ikut-ikut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan hal-hal yang diharamkan oleh Allah, dan kalianpun ikut menghalalkannya?’ Aku-pun menjawab: ‘Betul.’ Beliau kembali bersabda: ‘Itulah wujud peribadatan kepada mereka.’” (Riwayat At Tirmizy, At Thabrani, dan Al baihaqi, dan hadits ini dihasankan oleh Al Albani)

Inilah penyegaran agama yang sedang dianut dan dipropagandakan oleh JIL melalui koordinatornya UAA. Sehingga pembaharuan yang berhasil ia capai bukanlah: “agama Islam yang lebih segar, lebih cerah, lebih memenuhi maslahat manusia.”[1] akan tetapi yang berhasil ia capai ialah “agama Abu Jahal, dajjal, dan para pendetadan kaum salibis yang telah mendanai JIL yang sudah barang tentu lebih sesat, lebih suram dan menghancurkan maslahat manusia.”

——————————————————————————–

[1] Ini adalah cuplikan dari penutup tulisan UAA yang dimuat di harian KOMPAS edisi 18 Nopember 2002 M, dan kemudian dibukukan dan di beri judul: Islam Liberal & Fundamental, hal. 16.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: