Dr. Anis Malik Thoha, Pemainnya semakin banyak

15 May

Kamis, 14 Mei 2009 pukul 23:57:00

Kita tidak boleh mudah terjebak pada propaganda Pluralisme Agama, yang sekarang disebarkan dengan berbagai cara. Mulai dari propaganda melalui media massa sampai melalui jalur akademis.

Bisa dikatakan, Dr. Anis Malik Thoha adalah salah satu pakar terkemuka tentang Pluralisme Agama kawasan Asia Tenggara, saat ini. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Jurusan Perbandingan Agama di International Islamic University Malaysia (IIUM). Kini, Dr. Anis yang juga Rais Syuriah NU Malaysia ini menjabat sebagai Deputy Dean IIUM Press, Research Management Centre IIUM. Di Indonesia, bukunya yang berjudul “Tren Pluralisme Agama” mendapat penghargaan sebagai buku terbaik di Islamic Book Fair Award 2007 di Jakarta. Buku ini dalam edisi Arab dan Inggris sebelumnya mendapat penghargaan di Pakistan dan Malaysia. Ditemui redaktur Islamia, Nuim Hidayat, di kampusnya, International Islamic University Malaysia (IIUM) Kuala Lumpur, pada 1 Mei 2009 lalu, Dr. Anis Malik Thoha mengemukakan pandangannya tentang penyebaran paham Pluralisme Agama ini.

Bagaimana perkembangan ide pluralisme agama di Malaysia dan Indonesia?

Ya, memang mereka tidak akan berhenti mengkampayekan ini. Indikasinya makin kuat, dengan banyak sekali pemain baru di samping pemain lama. Bahkan tidak hanya pemain individual, tapi juga pemain yang menggunakan institusi atau lembaga yang terkenal yang bernaung di bawah universitas. Tentu ini efeknya luar biasa. Pemikiran wacana liberal ini memang merupakan output dari beberapa orang, tapi dengan semangat dan kegigihan mereka yang ditopang dengan dukung an politik masa Orba dulu dan tambahan dukungan dana luar biasa, maka sekarang kita lihat hasil jerih payah mereka ini cukup berhasil. Sekarang ini pemainnya sudah semakin banyak. Ada lembaga semi pemerintah, LSM-LSM, dan sebagainya berjubel untuk menyebarkan program ini ke tengah masyarakat.

Di Malaysia sendiri bagaimana?

Untuk di Malaysia, memang sedikit ada kebebasan dari pemerintah. Dan itu dimanfaatkan oleh masyarakat di sini. Sejumlah kelompok liberal di Malaysia cukup aktif menggalang kerjasama dengan kelompok-kelompok yang samasama berpikiran liberal. Saya beberapa kali diundang untuk menghadiri forumforum mereka. Mereka didukung oleh lembaga-lembaga yang didanai negaranegara Barat. Terakhir saya baca ada yang berhasil merekrut banyak aktivis feminisme seluruh dunia, dengan mengadakan pertemuan di Malaysia pada Februari 2009 lalu. Mereka mendeklarasikan ‘Global Musawwa’. Jadi mereka mendekalarasikan gerakan global tentang feminisme. Mereka menginginkan equality persamaan penuh, bukan equity keadilan.

Mereka juga bersepakat dengan liberalisme atau pluralisme?

Secara otomtatis. Liberalisme itu sudah satu satu paket dengan feminisme, pluralisme persamaan gender dan sejenisnya. Itu sudah satu paket. Jadi kalau kita lihat pemainnya memang bukan semakin berkurang.

Ada juga yang memanfaatkan jalur ilmiah seperti menulis disertasi doktor untuk penyebaran paham ini?

Sebenarnya untuk kajian akademis, tesis dan sejenisnya itu sebenarnya nggak perlu kita takutkan. Tentu selama kajian itu dilakukan dengan kaidah-kaidah akademis. Dilakukan secara amanah dan tidak berusaha untuk memaksakan pra asumsi. Jadi, jangan mencari-cari ayat al-Quran untuk melakukan pembenaran paham yang sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam.

Jadi bagaimana kaitan antara toleransi dan pluralisme agama?

Sering orang mengacaukan antara toleransi dan pluralisme agama, dengan tidak mendefinisikan dengan baik arti “pluralisme agama” itu sendiri. Cara semacam ini bukan kajian akademis yang baik. Definisi ini sangat penting, supaya tidak keliru dalam memberikan penilaian. Jika seseorang memahami pluralisme sebagai toleransi, maka dia telah keliru. Hal seperti ini terjadi di Indonesia dan juga di Malaysia. Pluralisme agama ini adalah suatu istilah yang sudah digunakan oleh para ahlinya. Tiba-tiba dipahami dengan sangat simple. Ini kan tidak benar.
Saya sangat prihatin, kadangkala ada kalangan cendekiawan bahkan yang bergelar guru besar yang memuji-muji satu karya tentang pluralisme tanpa melakukan penelitian yang mendalam. Misalnya, dalam mengutip pendapat para pemikir klasik seperti Ibn Arabi dan Jalaluddin Rumi tidak dicek pada sumber aslinya. Tetapi hanya menyandarkan pada literatur Barat. Ini sangat tidak baik, dan kurang ilmiah. Sikap kritis ini harusnya muncul pada kalangan cendekiawan, sehingga tidak salah dalam menilai sesuatu. Intinya, kita tidak boleh mudah terjebak pada propaganda Pluralisme Agama, yang sekarang disebarkan dengan berbagai cara. Mulai dari propaganda melalui media massa sampai melalui jalur akademis.

Imam al-Ghazali sangat menekankan bahaya ulama as-su’ bagi umat Islam. Anda melihat relevansi dengan kondisi saat ini?
Ya. Itu ulama yang akhlaknya tidak baik. Ulama yang mengejar kepentingan sesaat, atau mencari dan menyebarkan ilmu bukan untuk tujuan yang mulia dari ilmu itu sendiri, tetapi untuk kepentingan sesaat. Setiap zaman akan selalu ada. Umat Islam diminta untuk mewaspadai benar-benar masalah ini.

APA KATA MEREKA

“Dalam usaha menjangkau masyarakat Muslim, Amerika Serikat mensponsori para pembicara dari lusinan pesantren, madrasah serta lembagalembaga pendidikan tinggi Islam, untuk bertukar pandangan tentang pluralisme, toleransi dan penghargaan terhadap Hak Asasi Manusia. Kedutaan mengirimkan sejumlah pemimpin dari 80 pesantren ke Amerika Serikat untuk mengikuti suatu program tiga-minggu tentang pluralisme agama, pendidikan kewarganegaraan dan pembangunan pendidikan. (http://www.usembassyjakarta. org/bhs/Laporan/indonesia_Lapora n_deplu-AS.html)

Dr. Stevri Lumintang
Teolog Protestan

‘’Inti Teologi Abu-Abu (Pluralisme) merupakan penyangkalan terhadap intisari atau jatidiri semua agama yang ada. Karena, perjuangan mereka membangun Teologi Abu-Abu atau teologi agama-agama, harus dimulai dari usaha untuk menghancurkan batu sandungan yang menghalangi perwujudan teologi mereka. Batu sandungan utama yang harus mereka hancurkan atau paling tidak yang harus digulingkan ialah klaim kabsolutan dan kefinalitas( an) kebenaran yang ada di masingmasing agama. Di dalam konteks kekristenan, mereka harus menghancurkan keyakinan dan pengajaran tentang Yesus Kristus sebagai pernyataan Allah yang final.’’

(Stevri Lumintang, Theologia Abu-Abu: Tantangan dan Ancaman Racun Pluralisme dalam Teologi Kristen Masa Kini, (Malang: Gandum Mas, 2004).

Dr. Anis Malik Thoha
Cendekiawan Muslim

“Pluralisme Agama memang sebuah agama baru yang sangat destruktif terhadap Islam dan agama-agama lain.”

Dr. Frank Gaetano Morales
Cendekiawan Hindu

“Ketika kita membuat klaim yang secara sentimental menenangkan, namun tanpa pemikiran bahwa “semua agama adalah sama”, kita sedang tanpa sadar mengkhianati kemuliaan dan integritas dari warisan kuno ini, dan membantu memperlemah matrix filosofis/kultural agama Hindu sampai pada intinya yang paling dalam. Setiap kali orang Hindu mendukung Universalisme Radikal, dan secara bombastik memproklamasikan bahwa “semua agama adalah sama”, dia melakukan itu atas kerugian besar dari agama Hindu yang dia katakan dia cintai.”

(Ngakan Made Madrasuta (ed), Semua Agama Tidak Sama, (Media Hindu, 2006)

(-)
 http://www.republika.co.id/koran/0/50235

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: