Catatan Perjalanan Tim Relawan Kemanusiaan FPI di Gaza (Bag.1)

17 Feb

logo-baru-fpiBermula ketika semua kerisauan kami pudar bahwasanya Mesir telah bersedia membuka perbatasan untuk memberikan kesempatan bagi semua bantuan untuk dapat masuk ke Gaza setelah mendapat kabar bahwa Israel telah mencanangkan gencatan senjata. Kami semua masuk bersama dengan tim relawan kemanusiaan lainnya seperti Mer-C, Dompet Dhuafa, dan lainnya. Sesampainya tim FPI disana, kami dijemput oleh seorang kawan yang bertemu di rafah dan diajak ke sebuah tempat untuk menginap di sebuah rumah warga, cerita menarik saat tertidur pukul 2 dini hari kami dikejutkan oleh dentuman bom yang sangat dahsyat yang sepertinya jaraknya sangat dekat sehingga kami berniat untuk keluar rumah dan mempersiapkan untuk mengahadapi segala hal yang mungkin terjadi, karena kami piker saat itu kami telah di kepung dan diserang oleh tentara zionis Israel, tetapi keluarga yang memberikan kami tempat istirahat menghimbau agar jangan sampai kita keluar dari bangunan rumah, karena bom tadi sengaja dilontarkan tentara zionis yahudi dengan sebuah pesawat tanpa awak yang setiap harinya melintas di langit Gaza untuk memantau dan membidik setiap gerakan pasukan Mujahidin Hamas saat keluar dari tempat persembunyian mereka, jika ada orang yang keluar dari rumahnya, maka radar dari satelit zionis Israel siap untuk membidik pergerakan itu dan akan membombardir lokasi itu dengan bom yang lebih dahsyat.

Akhirnya kami semua menurut dan mengurungkan diri untuk keluar dan kami disuruh untuk tidur kembali. Satu jam kemudian, pukul 3 dini hari bom kembali terdengar dan makin jelas bahwa lokasinya sangat dekat dengan tempat kami, namun kami masih disuruh untuk beristirahat dan tidak perlu merisaukan dentuman bom itu. Sampai satu jam berikutnya pukul 4 dini hari, bom kembali diluncurkan pasukan zionis Israel, kali ini lebih dahsyat dari sebelumnya karena semua bangunan kami tergetar hebat dan kami yakin bahwa ada bangunan disekitar kami yang menjadi sasaran bom zionis Israel tersebut.

Selepas subuh kami semua diajak berkeliling untuk melihat tempat yang barusan di bom oleh zionis Israel, ternyata jarak lokasi yang di bom dengan tempat kami menginap berjarak sekitar 1 kilometer dan lokasi itu merupakan terowongan-terowongan yang berhasil diketahui oleh Zionis Israel lokasi koordinatnya. Zionis Israel menganggap terowongan itu adalah terowongan untuk menyuplai senjata bagi Hamas, padahal terowongan yang mereka bombardir kebanyakan adalah milik rakyat Gaza untuk menyuplai bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari yang tidak didapatkan di Gaza. Kami semua sangat terheran-heran karena yang kami tahu di semua media dunia bahwa Israel telah mencanangkan gencatan senjata, namun kenyataannya mereka zionis Israel terus membombardir Gaza dan sekitarnya. Seorang kawan menyampaikan kepada kami bahwasanya bagi bangsa Yahudi tidak pernah ada gencatan senjata, itu hanya tersiar di media saja namun pada kenyataannya tidak demikian bagi bangsa mereka yang tidak pernah puas untuk merebut wilayah palestina. Beribu macam alasan mereka untuk mengelabui dunia dengan dalih seperti memburu jaringan teroris, membalas serangan roket Hamas, dan mendesak hamas agar mengakui Israel, padahal kenyataannya Zionis Israel mempunyai banyak tujuan licik dari agresinya selama ini ke Bumi Palestina termasuk untuk menguasai Al-Aqhsa.

Lalu tim kami diajak berkeliling masih di kota Rafah – Palestina menuju Madrasah khusus anak yatim yang bernama “Daar al-Fadhilah” yang juga di bom oleh zionis Israel karena dianggap menyimpan senjata dan merupakan tempat persembunyian Pejuang Hamas. Padahal nyatanya tempat ini merupakan madrasah khusus anak-anak yatim yang juga terdapat mesjid. Lalu kami juga dibawa ke lokasi yang rusak parah karena bom Zionis Israel dan tempat ini adalah Masjid yang terbesar di Rafah, bangunan ini telah hancur lebur dan sudah tidak dapat dipergunakan lagi. Dan memang kenyataan di lapangan bahwa, Zionis Israel menyerang hampir ke semua masjid di Gaza. Mereka menganggap bahwa mesjid mesjid itu merupakan tempat menyimpan roket-roket Hamas, padahal peraturan PBB telah mencanangkan aturan perang salah satunya adalah jangan sampai menjadikan rumah ibadah sebagai sasaran penyerangan begitupun sekolah-sekolah, dan tempat pengungsian. Namun peraturan ini semuanya dilanggar oleh Zionis Israel, mereka semua menghalalkan segala cara untuk mewujudkan ambisi mereka.

Dari semua lokasi yang dihancurkan Zionis Israel melalui serangan udara kebanyakan adalah fasilitas pemerintahan seperti kantor pemerintah, kantor polisi dan tempat pemerintahan lainnya. Karena setelah pemilu yang berlangsung di palestina, kegiatan pemerintahan di Gaza City khususnya telah diambil alih semuanya oleh Hamas.

Dari sana kami beranjak ke sebuah Lembaga Kemanusiaan di Rafah yang bernama “Jama’ah al-Islamiyyah” yang merupakan lembaga yang juga sebagai tempat penyaluran bantuan bantuan yang datang dari berbagai penjuru dunia. Disana tim FPI sempat menyampaikan amanah dari rakyat Indonesia yaitu bantuan dana agar dialokasikan untuk pembangunan kembali sekolah-sekolah yang telah hancur, pemberian beasiswa bagi siswa-siswa yang rumahnya telah dihancurkan oleh Zionis Israel, pembelian buku-buku pelajaran dan segala hal yang berkaitan dengan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar di Gaza.

Pada malamnya kami dipertemukan oleh seolah seorang petinggi Hamas dan mereka membawa kami ke pusat Gaza City dan mengajak kami semua berkeliling ke tempat-tempat yang dihancurkan oleh Zionis Israel. Kami juga menyaksikan bahwa semua kegiatan sehari-hari masyarakat Gaza masih berjalan seperti biasanya, semua kantor tetap menjalankan absensinya bagi karyawan karyawannya meskipun gedung mereka telah dihancurkan oleh serangan udara mereka tetap menjalankan pekerjaan mereka, baik itu kepolisian, perkantoran, sekolah-sekolah, dinas kebersihan, dan lainnya. Tidak tampak seperti apa yang kami bayangkan, kami berpikiran bahwa Gaza sudah lumpuh total namun ternyata tidak, semua berjalan dengan normal dan seperti biasanya. Jalan-jalan besar tetap macet, restoran-restoran tetap ramai akan pembeli, pasar-pasar juga ramai dengan transaksi jual-beli, dan lainnya. Kegiatan ekonomi tetap berjalan meskipun harga melambung tinggi semenjak pemblokadean oelh Zionis Israel di setiap perbatasan. Mereka cenderung asyik dengan keadaan mereka yang apa adanya.

Siang harinya kami diantarkan ke lembaga sosial yang merupakan sayap sosial Hamas, membawahi semua lembaga sosial yang ada di Gaza. Lembaga itu bernama “Lajnah Al-Iqhotsa Wa ath-Thawari” yang diketuai oleh kawan lama kami yaitu Fuad An Nahal. Disana kami juga menyalurkan bantuan dari rakyat indonesia yang menyumbang pada FPI untuk keperluan sosial di wilayah Gaza dan sekitarnya. Semua warga terlihat sangat antusias ketika melihat ada tamu dari luar negeri mereka yang peduli dengan keadaan mereka.

Pengalaman menarik yang kami temukan adalah bahwa betapa ramahnya semua masyarakat Gaza terhadap tamu, hampir setiap harinya kami selalu bermalam di rumah-rumah warga bahkan mereka berebutan untuk memuliakan kami sebagai tamu. Kami mendapati kemuliaan sifat-sifat masyarakat Gaza, hal yang paling berkesan adalah kami tidak pernah menemukan pengemis di setiap sudut-sudut jalan seperti di Indonesia padahal nyatanya sekitar 60-70% warga Gaza adalah jobless. Saat kami berkunjung ke korban-korban luka, mereka pun tidak pernah menunjukkan rasa lemah dan rasa takut akan agresi Zionis Israel dan sifat ini hampir kami temukan di setiap masyarakat Gaza, bahkan ketakutan tentara Zionis Israel menjadi bahan olok-olokan di setiap masyarakat Gaza. (20menit). Bahkan, yang lebih menariknya lagi konflik berkepanjangan antara Zionis Israel dan Palestina memberi efek bagi anak-anak di Gaza, Palestina. Umumnya, kebanyakan anak lelaki di sana bercita-cita menjadi anggota pasukan Al Qosam, salah satu sayap mujahidin militer Hamas. Sementara anak perempuan kebanyakan ingin menjadi dokter dan perawat untuk mengobati warga yang menjadi korban serangan Zionis Israel. Warga Gaza adalah warga yang penuh dengan kemuliaan Al-Qur’an.

Bahkan kami senantiasa disuguhi oleh keramah-tamahan mereka dalam menyambut tamu, pernah suatu ketika kami sholat di sebuah mesjid yang belum dihancurkan Israel kami dikerubungi oleh jamaah yang sholat di mesjid itu, mereka semua sangat antusias mendengarkan khabar masyarakat di Indonesia yang mereka tahu sebagai negara penduduknya beragama Islam yang paling besar di dunia. Hampir di setiap mesjid kami sholat ketika jama’ah mengetahui kami dari Indonesia, mereka semua berebut untuk menyalami kami dan sangat bangga kepada kami yang sudah rela mengorbankan harta benda dan meninggalkan keluarga hanya untuk pergi ke tanah perjuangan, tanah Gaza.

Di setiap pertemuan dengan lembaga maupun warga masyarakat secara langsung, kami mengusung Indonesia bahwa kami rakyat Indonesia akan selalu mendukung dan mambantu perjuangan rakyat Palestina demi kemerdekaannya. Dan mereka menunjukkan rasa bangganya bahwa mereka merasakan bahwa perjuangan mereka tidak sendirian, mereka masih mendengar bahwa banyak kaum Muslimin di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia masih bersuara untuk memperjuangakan Palestina dari cengkraman Zionis Israel. Dan nampaknya semakin kami mengenal warga di Gaza, semakin malu kami sebagai bangsa Indonesia yang terkenal keramah-tamahanya, sepertinya Indonesia harus kembali berintrospeksi mengenai sebutannya sebagai negara yang ramah-tamah.

Hal ini kami sadari adalah karena sebagian besar penduduk Gaza masih berpegang teguh kepada Al-Qur’an sehingga sangat terlihat sekali akhlak mereka dalam memuliakan tamunya. Rakyat Gaza adalah manusia yang hanya bersandar kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk dan kekuasaan apapun di dunia. Terlihat juga dari fakta bahwa di Gaza meskipun terisolir namun wilayah ini merupakan wilayah yang penduduknya paling banyak bergelar S3 dan tidak hanya itu saja, anak-anak yang masih duduk dibangku sekolah dasar rata-rata semuanya telah hafidzh (hafal Al-Qur’an) dan terbukti tahun kemarin warga Gaza baru saja mewisudakan sekitar 3.500 siswanya yang hafal Al-Qur’an yang duduk di bangku sekolah dasar. Hal inilah yang menyebabkan pihak musuh khawatir sehingga sasaran Zionis Israel kebanyakan adalah anak-anak, karena mereka tidak dapat membayangkan di usia kecilnya saja warga Gaza telah hafal Al-Qur’an bagaimana nanti setelah mereka semua dewasa, tentunya akan membuat perlawanan yang lebih dahsyat terhadap Zionis Israel.

Sekjen FPI, Ust. Shobri Lubis

(reporter fpi.or.id/adie)

(bersambung ke Bag. 2)

http://www.fpi.or.id/artikel.asp?oy=dak-15

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: