Akhlak Buruk Gerombolan Penolak RUU Pornografi

18 Dec

Akhlak Buruk Gerombolan Penolak RUU Pornografi

Seandainya pornografi bisa berwujud makhluk atau benda, tentulah ia berwujud sangat buruk, bejat dan menjijikkan. Rupanya wujud yang mirip tergambar pula dari tingkah laku para pendukung pornografi, alias para penolak RUU Pornografi.

 

Salah satu contoh lama adalah saat aksi demo para penolak RUU APP (kini berganti nama menjadi RUU Pornografi), yang terjadi tanggal 22 April 2006 dimana dihadiri istri Gus Dur, Sinta Nuriyah, pedangdut goyang ngebor Inul Daratista, pemain sinetron Rieke Dyah Pitaloka, Becky Tumewe, Jajang C Noer, Lia Waroka, Olga Lidya, Ratna Sarumpaet, dan lain-lain. Saat demo berlangsung sekelompok waria (bencong) yang berkumpul di mobil tronton, tempat panggung didirikan di pojok kawasan Bundaran HI, Jakarta, melakukan joged yang memamerkan lekuk tubuh. Puncaknya salah seorang dari mereka melakukan pamer payudara didepan para wartawan dan didukung penuh tawa gembira oleh sesama bencong lainnya.

ihporno2

Aksi Pamer Payudara Karnaval Budaya Tolak RUU APP di Bundaran HI

 

 

 

Dalam setiap demo, gerombolan penolak RUU Pornografi dari berbagai kelompok ini selalu tampil dengan aksi-aksi yang secara sengaja mengundang birahi, mengumbar aurat, dan dengan menggunakan spanduk dan poster yang menggunakan bahasa yang jauh dari kesopanan.

Sedangkan dalam dialog di depan publik mereka rela menghalalkan segala cara, misalnya dengan ancaman melepaskan diri dari NKRI, memfitnah bahwa ada upaya Islamisasi dari sekelompok orang di Indonesia, membentuk opini bahwa RUU Pornografi bisa menimbulkan bahaya SARA, dan lain sebagainya.

Kesaksian Ade Armando

Bahkan seorang Ade Armando, ‘ahli komunikasi’ yang kontroversialpun, menjadi kaget setelah menyaksikan tingkah laku gerombolan penolak RUU Pornografi ini. Ade Armando bukanlah seorang yang berpihak pada umat Islam, misalnya sikapnya yang membolehkan muslim mengucapkan selamat Natal atau dukungan terhadap improvisasi sholat ala Wadud, namun dalam aspek pornografi ia merupakan salah seorang pendukung RUU Pornografi.

Berikut ini kesaksian Ade Armando, yang selama ini dikenal menolak gaya aksi FPI, menuliskan kesan-kesannya saat ikut hadir menyaksikan Rapat Dengar Pendapat Umum dengan para wakil masyarakat di provinsi Bali. Kesaksian ini ia tuliskan sendiri di milis Jurnalisme@yahoogroups.com, dan dikutip sesuai aslinya, sbb :

“Awal pekan ini sejumlah anggota DPR berjalan ketiga daerah yang selama ini dianggap sebagai basis penolakan RUU Pornografi untuk melakukan acara Rapat Dengar Pendapat Umum dengan para wakil masyarakat di tiga provinsi: Bali, Sulawesi Utara dan Jogja. Acara ini diadakan terutama untuk menjawab permintaan agar RUU ini disosialisasikan dan didiskusikan kembali. Saya hadir di RDPU soal RUU Pornografi di Bali.

Keadaannya sungguh buruk:

1. Suasana sungguh tak terkendali, bahkan oleh Gubernur. Walau ada sejumlah tokoh masyarakat Bali berbicara dengan tenang, puluhan undangan datang bukan untuk berdiskusi tapi untuk marah dan memaki-maki. Tujuh anggota DPR yang mendukung RUU Pornografi dan berusaha menjelaskan argumen mengapa RUU ini penting diteriaki, dimaki-maki, disuruh turun dan pulang ke Jakarta. Tak ada dialog. Mengingatkan saya pada gaya FPI. Bahkan memang salah satu pembicara menyatakan dirinya mewakili kaum preman.

2. Gubernur Bali menyatakan: “Kami bukan saja menolak RUU Pornografi tapi juga menolak membahasnya!”

3. Pasal-pasal RUU yang dipersoalkan sama sekali tak dibicarakan. Sebagian peserta masih berbicara bahwa kalau disahkan, RUU ini akan mengkriminalkan para turis berbikini di pantai-pantai Bali, mengkriminalkan arca-arca dan patung-patung Bali dan akan mengkriminalkan adat istiadat Bali. Nyata sekali para pembicara ini termakan propaganda dan disinformasi yang menyesatkan tentang isi RUU.

4. Kelompok Islam tidak diundang dalam acara ini. Wakil MUI Bali akhirnya bisa hadir setelah bergerilya mencari cara untuk bisa masuk ke ruangan. Sepanjang acara, mereka, tentu saja, tidak punya kesempatan untuk berkomentar (walau kemudian, saya katakan pada mereka: tak perlulah MUI bicara dalam suasana panas begini.)

5. Wakil PDS di DPR jelas-jelas berusaha memanfaatkan acara ini. Tanpa bicara isi RUU, ia memanfaatkan waktu untuk bicara dengan satu pernyataan singkat: “Sejak awal PDS menolak RUU Pornografi ini.” Tepuk tangan pun bergemuruh.

6. Kampanye negatif dengan sangat kasar sangat terasa. Ketua MUI Bali menunjukkan pada saya berita Media Indonesia yang memuat informasi bohong dengan seolah-olah mengutip pernyataan Ketua MUI Bali bahwa dia mendukung penolakan atas RUU Pornografi. Saya sarankan pada dia, kirimkan surat ke Media Indonesia dan Dewan Pers dan koran-koran besar lain bahwa Ketua MUI Bali tidak pernah menyatakan hal itu. Saya katakan, kalau Bapak tidak membantah, orang akan menyangka bahwa MUI Bali memang mendukung penolakan.

7. Bagaimanapun kondisi Bali lebih baik daripada Rapat Dengar Pendapat Sulawesi Utara. Di Sulut, seorang pendukung RUU Pornografi dipukul tatkala menyatakan dukungannya atas RUU Pornografi.

8. Sepanjang acara, ancaman bahwa Bali akan memisahkan diri dari NKRI kalau RUU ini disahkan berulang-ulang disampaikan.

Di Bali, saya belajar, perjalanan kita menuju masyarakat demokratis yang beradab memang masih jauh dari kenyataan. FPI cuma salah satu contoh. Contoh-contoh lainnya tersebar di mana-mana. Tapi, memang, kata siapa hidup ini mudah? (ade armando) “

Nahh, sekarang kita telah melihat bukti tingkah laku para penolak RUU Pornografi. Ini tak lain adalah sikap premanisme pemaksaan kehendak, preman berjubah HAM, radikalisme moral jalanan, pelaku kriminal pemikiran, dan merupakan salah satu bentuk kebrutalan moral rendahan.

Mereka mungkin tidak merasa atau berkilah bahwa mereka bukan mendukung pornografi, tapi mereka sebenarnya tidak menolak infrastruktur bagi keberadaan pornografi. Dan jelas, bahwa mental bejat dan akhlak buruk yang tersembunyi dibalik lipatan-lipatan ‘hak asasi & keadilan’ yang mereka gemborkan sebenarnya adalah salah satu perangkat infrastruktur untuk hidupnya pornografi di negeri yang kita cintai ini.

Bahkan dikutip dari situs lain, bahwa Ketua Panitia Khusus Rancangan Undang-Undang (RUU) Pornografi Balkan Kaplale mengaku telah menerima 6.000 pesan singkat dari masyarakat mengenai rancangan undang-undang yang sedang dibahas.

“Dari 6.000 SMS hanya 20 yang menolak,” aku Balkan di gedung DPR. Sisanya, lanjut Balkan mendukung rancangan undang-undang Pornografi segera disahkan menjadi undang-undang.

Sebelumnya, ratusan orang dari Forum Umat Islam (FUI) melakukan demontrasi di depan gerbang DPR. Mereka mendesak DPR segera mengesahkan RUU tersebut.

Perwakilan massa juga sempat diterima Ketua DPR Agung Laksono, Ketua Pansus Balkan Kaplale, dan Ketua FPPP Lukman Hakim Saefudin. (fpi.or.id/RM)

http://www.fpi.or.id/artikel.asp?oy=ber-77

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: