Archive | Pukul Sekularisme- Pluralisme -Liberalisme RSS feed for this section

Tokoh JIL Bersedih Putusan MK

20 Apr

Tuesday, 20 April 2010 12:23 Nasional

Tokoh liberal bersedih putusan MK. Menurutnya, keputusan MK dipengaruhi unsur politik

Hidayatullah.com—Tokoh Jaringan Islam Liberal (JIL), Lutfi As-Syaukani, yang juga saksi ahli dari pemohon penghapusan UU PNPS No.1 1965, tak dapat menyembunyikan rasa kecewanya atas putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menolak penghapusan Uji Materi UU Penodaan Agama.

“Ya sedih lah mas,” (more…)

Kandidat Liberal Ditolak Menjadi Calon Ketua Umum PBNU

24 Mar

Wednesday, 24 March 2010 03:31 Nasional

Muktamirin meminta kandidat yang liberal atau terlibat Jaringan Islam Liberal (JIL) tidak boleh maju sebagai calon Ketua Umum PBNU

Hidayatullah.com—Ada yang menarik dalam rapat pembahasan dan penetapan tata tertib dan acara Muktamar NU ke-32 di Makassar, Selasa, (23/3) malam. Dimana memutuskan salah satu syarat ketua umum adalah tidak terlibat JIL. (more…)

MUI Jatim Tolak Keras Konferensi Lesbian dan Gay

24 Mar

Tuesday, 23 March 2010 20:45 Nasional

Mejelis Ulama Indonesia (MUI) Jatim, meminta pertemuan Gay se-Asia di Surabaya dibatalkan dan tak menyulut amarah umat Islam

Hidayatullah.com–Ketua MUI Jawa Timur, KH. Abdussomad Bukhori menolak keras Konferensi Lesbian dan Gay se-Asia yang akan diadakan di Surabaya pada 26-28 Maret mendatang.

“MUI Jatim menolak keras konferensi gay di Surabaya. Acara tersebut sangat tidak cocok,” katanya kepada hidayatullah.com (23/3) sore tadi.

Dia menambahkan, gay dan lesbi adalah sesuatu yang dilarang agama. Jadi, sangat tidak layak jika diadakan di tengah masyarakat yang beragama. Menurutnya, Indonesia, khususnya Surabaya sudah banyak ditimpa masalah. Karena itu, dia megatakan, jangan sampai ditambah lagi dengan masalah baru lagi. (more…)

Luthfi dan Rusdhie

1 Mar

Friday, 26 February 2010 10:10

Atas nama Kebebasan Beragama, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tak ada peraturan menghakimi aliran sesat atau tidak. Baca CAP Adian ke-280

Oleh: Dr. Adian Husaini


" Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng Nabi Muhammad, meyakini suatu ajaran dan berusaha menyebarluaskannya.

(Luthfi Assyaukanie)

PADA 26 Juni 2007, Harian Media Indonesia menurunkan artikel Luthfi Assyaukani, salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal, berjudul Salman Rushdie dan Citra Islam. Melalui artikel ini, penulisnya mengecam gelombang protes kaum Muslimin atas penganugerahan gelar bangsawan Inggris untuk Salman Rushdie, pengarang novel Ayat-Ayat Setan yang sangat menyinggung perasaan kaum Muslim. (more…)

Hermeneutika Membahayakan Akidah Umat

26 Jan

Hermeneutika Membahayakan Akidah Umat

Belum pernah Orientalis mengatakan, Al-Quran merupakan perangkap Quraisy. Tapi “murid-muridnya” di Indonesia sudah berani mengatakannya

Hidayatullah.com—Hermeneutika sangat berbahaya bagi akidah umat Islam. Hermeneutika ini muncul dan hadir sebagai virus ketika paham liberalisme di Indonesia mulai disosialisasikan oleh beberapa alumnus McGillUniversity di kalangan IAIN.

Mereka secara sengaja, melalui berbagai upaya yang dilakukan secara ilmiah, sangat ingin menyeret umat Islam untuk memahami Al-Quran dengan konsep dan metodologi interpretasi teks yang telah digunakan Barat untuk memahami Bibel.

Demikian disampaikan peneliti dari Institute for the Study of Islamic Thought & Civilization (INSISTS) Jakarta, Dr. Adian Husaini, hari Ahad (17/1), pada “Workshop Tafsir dan Hermeneutika” selama satu hari penuh.

Acara yang bertempat di Masjid Abu Bakar Al-Shidiq Ponpes Husnyain, Jl. Lapan Pekayon No. 25 Jakarta Timur, ini juga menghadirkan nara sumber ahli INSISTS lainnya, yakni Nirwan Syafrin, MA, Henri Shalahudin, MA, dan Fahmi Salim, MA.

“Liberalisme berkembang pesat di Indonesia sejak kehadiran kafilah yang telah menyelesaikan studinya di McGillUniversity dengan embel-embel gelar dan pengakuan ahli Islam dari Barat. Mereka inilah yang telah mengubah orientasi dan kurikulum IAIN di Indonesia,” jelasnya.

Perubahan yang mereka lakukan bukan sekedar perubahan biasa, tetapi dekonstruksi dan desakralisasi terhadap Al-Quran. Adian memberikan contoh dengan diberlakukannya mata kuliah hermeneutika sebagai mata kuliah wajib di beberapa kampus UIN atau IAIN.

“Tujuan mata kuliah hermeneutika dan semiotika di Program Studi Tafsir Hadis Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, adalah agar mahasiswa dapat menjelaskan dan menerapkan ilmu hermeneutika dan semiotika terhadap kajian Al-Quran dan Hadits”.

Akibat dari itu, muncullah berbagai tulisan dalam bentuk jurnal, buku, dan makalah yang meragukan Al-Quran, yang justru ditulis oleh umat Islam sendiri. Hal ini tentu bukan masalah sederhana, sebab hermeneutika merupakan kajian tafsir Bible yang dilandasi oleh paham relativisme yang berkembang di Barat, yang sesungguhnya tidak cocok dengan Islam. Tidak saja itu, hermeneutika mengajak umat Islam untuk menyamakan Al-Quran layaknya buku-buku karangan manusia, bahkan meyakini bahwa Al-Quran bukan kalamullah.

Dalam kesempatan itu, Dr. Adian Husaini, membawa sebuah buku yang ditulis oleh pengasong-pengasong liberal Indonesia, seperti Abdul Muksith Ghazali, Luthfie Al Syaukani, dan Ulil Absar Abdallah. Di antara buku yang dijadikan contoh adalah “Metodologi Studi Al-Qur’an” diterbitkan Gramedia pada tahun 2009 dan dilengkapi dengan kata pengantar Prof. Dr. Nasarudin Umar dari Departemen Agama.

Menurutnya, buku tersebut sangat berani dan terang sekali menyerang Islam. “Buku ini (sambil mengangkat buku tersebut), tidak saja berbalik 180 derajat dari kebenaran Islam, tapi berbalik 1000 derajat, bahkan lebih besar lagi,” tegasnya.

Keberhasilan Orientalis

Sementara Nirwan Syafrin, dalam paparannya menjelaskan, hermeneutika telah berhasil memecah belah kaum intelektual Muslim Indonesia. Baginya demam hermeneutika yang melanda intelektual muda Muslim di Indonesia dan menyulut perdebatan dan perselisihan di kalangan internal umat, merupakan satu keberhasilan “politik adu domba” kaum Orientalis yang merupakan produk kekuasaan Barat yang liberal.

“Sekarang Orientalis tinggal melihat aksi-aksi para muridnya yang pernah dididiknya terdahulu. Bahkan murid-murid Orientalis ini jauh lebih vulgar daripada Orientalis sendiri. Saya belum menemukan Orientalis yang mengatakan atau menulis bahwa Al-Quran merupakan perangkap Quraisy . Tapi kaum liberal di Indonesia dengan tanpa dosa mereka berani menuliskan dan mensosialisasikan pemikiran tersebut,” ungkapnya.

Dengan hermeneutika maka tujuan ideal sekularisme dapat terwujud. Karena umat telah bergeser dari meyakini Al-Quran sebagai kalam Allah, menjadi sebuah tulisan yang tak bernilai, kecuali seperti buku-buku pada umumnya. Selain itu secara konsep sekularisme tidak saja menghendaki pemisahan agama dari negara, tetapi mencabut manusia dari fitrah kehambaannya dengan meninggalkan Islam sebagai jalan hidup.

“Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hermeneutika menjadi program strategis jangka panjang pencapaian tujuan-tujuan liberalisme di Indonesia. Oleh karena itu kita sebagai Muslim tidak saja perlu menghafal Al-Quran, tetapi juga memahami dan menjalankannya secara benar, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan sahabat serta para ulama yang tsiqah. Kita sama sekali tidak memerlukan hermeneutika untuk memahami Al-Quran ataupun untuk menjawab tantangan zaman,” terang Adian beberapa saat sebelum mengakhiri presentasinya.

Acara ini dihadiri oleh mahasiswa, aktivis dakwah, dan pengurus pesantren se-Jabodetabek, dibuka langsung oleh Pimpinan Pesantren Husnayain, KH. Cholil Ridwan yang juga menjabat sebagai Ketua MUI Pusat.

Dalam sambutannya Kiai Cholil menyatakan bahwa Umat Islam harus bersama-sama membendung wabah atau virus Sepilis yang menggerogoti akidah umat Islam, khususnya generasi muda kita. [mam/www.hidayatullah.com]

ilustrasi:Yves Gellie/Corbis

http://hidayatullah.com/berita/lokal/10419-hermeneutika-membahayakan-akidah-umat.html

Pluralisme

20 Jan
Penulis: Hamid Fahmy Zarkasyi

" Our goal is a Christian nation. We have a Biblical duty, we are called by God, to conquer this country.. We don’t want equal time. We don’t want pluralism." Randall Terry, Founder of Operation Rescue.

Itulah sekelumit cetusan hati seorang penganut Kristen. Randall mungkin terlalu keras dan dicap intoleran. Tapi apa salahnya orang berda’wah jika itu perintah. Mestinya, dalam masyarakat yang plural, pernyataan Randall adalah jamak.

Mestinya Randal pernah baca tulisan Akbar S Ahmed tahun 90 an “Postmodernisme dipicu oleh semangat pluralism”. Tapi kini Randal merasa pluralisme bagai orde zaman postmo. Sebab ia memiliki rencana, bala tentara dan dana. Dipromosikan pada area sacred yakni agama, dan profane yakni masyarakat luas. Ini merupakan kelanjutan proyek Barat modern yakni sekularisasi. Pengembangan paham pluralism pada masyarakat modern, Peter Berger (1967) membantu proses sekularisasi. Padahal pada kesempatan lain dia pernah menyatakan sekularisasi umat Islam telah gagal kini sebagai gantinya adalah pluralism.

Tidak hanya merupakan program ganda, pluralisme pun merupakan kata bersayap. Terkadang bermakna toleransi dan disaat lain berarti relativisme. Dalam Religious ‘Pluralism’ or Tolerance?" Robert E. Regier & Timothy J. Dailey, juga tegas bahwa banyak orang hari ini yang dibingungkan oleh istilah toleransi keagamaan tradisional Barat dengan pluralism agama. Yang kedua berasumsi semua agama adalah sama-sama valid. Ini menurutnya menghasilkan relativisme moral dan ketidak beraturan etika (ethical chaos). Tokoh Katholik yang lain Rick Rood menulis “Pluralisme agama adalah pandangan bahwa semua agama adalah sama-sama benarnya sebagai jalan menuju Tuhan…. Perbedaan antara agama hanyalah permukaan; semua menuju pada tujuan yang sama. Inilah sayap pluralism, yang kiri toleransi dan yang kanan adalah relativisme.

Pandangan relativis juga ada dalam pikiran Diana L Eck, pimpinan proyek pluralisme Amerika. Agama-agama dan pandangan hidup sekuler adalah sama benar dan validnya. Benar jika dilihat dari dalam kulturnya sendiri. Maka dalam strategi Diana L. Eck., dalam "The challenge of pluralism," pluralitas digandengkan dengan pluralism. Sebab pluralitas saja tidak cukup, seorang pluralis harus terlibat inten. Artinya mengakui pluralitas agama tidak cukup, mestinya mengakui realitas kebenaran agama-agama. Itulah target program pluralisme.

Pengertian Diana didukung Ronald Thiemann. Dalam buku Toward a Confucian Pluralism: Globalization in Dialogue ia jelaskan bahwa pluralism itu adalah keyakinan bahwa kebenaran keyakinan kita tidak terbukti dengan sendirinya (self evident). Ini bukan berarti tidak punya bukti, tapi bukti kita tidak bisa meyakinkan orang yang tidak setuju. Seorang pluralis juga harus yakin bahwa orang yang tidak setuju dengan kita juga rasional. Artinya seorang pluralis harus mengakui rasionalitas atau validitas agama lain.

Pandangan Ronald jelas sekali relativistis, tapi Ronald berkilah, itu bukan relativis. Sebab pluralis tidak memaksa orang lain percaya, katanya. Kita bisa saja punya bukti kebenaran yang kuat, lanjtunya, tapi itu tidak akan memaksa orang lain percaya keimanan kita.

Tapi tidak semua sepakat dengan pandangan yang pro pluralisme. Kalangan gereja telah lama gerah dengan paham pluralism. Maka tidak heran jika Dr. Dawe Robert L. Dabney dalam Christian Century May 12, 1982 menulis bahwa gaung pluralisme telah memasuki ruang-ruang gereja. “Namun pemahaman kita cenderung sosiologi daripada teologis” tulisnya. Menurut professor teologi sistimatis di Union Theological Seminary, Richmond, Virginia itu pluralism mempunyai dua sisi negative-positif. Disatu sisi gereja harus terima berbagai pandangan baik konservatif ataupun liberal, yang alim atau yang brengsek, feminis atau tradisionalis, aliran kiri atau kanan. Disisi lain orang diluar gereja merasa senang sebab dengan pluralisme tidak ada lagi upaya menyingkirkan orang yang tak sefaham.

Dalam sebuah interview tahun 1998 teolog Anglican John Stott tegas menyatakan pluralism adalah mengakui kebenaran setiap agama, dan menolak untuk memilih diantara semua agama atau juga menolak penyebaran agama Kristen (evangelisme). Lebih telak lagi pernyataan rekannya, Gregory Koukl. Dalam sebuah interview radio tentang pluralism ia mengatakan “saya rasa konsep pluralisme agama masa kini adalah bodoh (stupid)….konsep bodohnya adalah ide bahwa semua agama pada dasarnya sama-sama benar”. Dalam bahasa informal America ia katakanya That is just flat out stupid.

John Carroll, uskup pertama Baltimore menyatakaan dengan pluralisme gereja Katholik di Amerika dapat dua keuntungan, dari jusifikasi politik dan teologis. Tapi pada saat yang sama juga mendapat tantangan dari situasi sosial yang pluralistis. Disatu sisi dituntut toleransi sipil atau sosial disisi lain intoleransi teologis. Jika gagal dalam hal ini taruhannya Katholik menjadi tidak laku dipasaran. Disisi lain Caroll khawatir akan ada persaingan antara kelompok agama dan ini tentu membahayakan kehidupan sipil.

Para peneliti sosiologi agama juga membuktikan kekhawatiran para petinggi gereja. Para peneliti menemukan bahwa pluralism agama melemahkan keterlibatan masyarakat dalam agama. Bagi Finke and Stark (1988) dengan pluralisme monopoli keagamaan menjadi “malas” alias tidak semangat dan diganti dengan meningkatnya kompetisi antar agama agar sesuai dengan kebutuhan. Ketika Negara atau lembaga publik tidak lagi mengobarkan kebaikan suatu agama, maka pemeluk agama-agama itu akan kehilangan kualitas atau intensitas keimanan atau kepercayaan pada agamanya. Disitu keterlibatan masyaraka pada agama menjadi turun. Semakin pluralis seseorang semakin rendah semangatnya pergi ke gereja.

Sensus di Kanada oleh Olson and Hadaway (1998), membuktitkan bahwa pluralisme menggergoti semangat masyarakat dalam kegiatan keagamaan di Amerika Utara. Pendekatan kognitif Berger malah lebih jelas bahwa dengan pluralisme agama individu menjadi sulit mengimani agama tertentu. Stark and Bainbridge (1987) juga mencatat ketika seseorang berbeda pendapat tentang (ajaran) suatu agama, maka salah satunya akan berkurang keimanannya. Kesimpulan Joseph M. Mcshane, S.J., Dosen religious studies di LeMoyne College in Syracuse, New York menarik dicermati. Dalam 200 tahun gereja-gereja Amerika menikmati “karunia” pluralisme tapi 40 tahun terakhir, gereja akhirnya harus menanggung efek pluralism yang merusak. Kini beda antara penganut Katholik dan orang Amerika biasa telah hilang.

Dinegeri ini “dagangan” pluralisme laris manis di pasar cendekiawan Muslim. Disertasi, workshop, LSM, seminar, jurnal mendukung penuh paham pluralisme, teologis atau sosiologis. Bahkan dinegeri para pluralis membuka sorga bagi semua agama. Disuatu saat nanti mungkin menjelang ajal seorang Kyai boleh dibaptis, dan setelah dimakamkan seorang pendeta boleh ditalqin, agar dialam sana bisa memilih sorga masing-masing yang “plural” itu. Wallahu a’lam

http://insistnet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=196&Itemid=54

tag: pluralisme laris manis, paham pluralisme, teologis, Kyai boleh dibaptis, efek pluralism yang merusak, makin pluralis makin malas ke gereja, Toleransi, Relativisme, pluralism, relativisme moral, Postmodernisme, Tolerance, Anglican John Stott, Joseph M. Mcshane, Dr. Dawe Robert L. Dabney, Randall Terry

Saat Eropa Gelap, Dunia Islam Gemilang

9 Dec

Penulis: Rifky Ramdhoni

Saat eropa dalam masa kegelapannya (dark ages) maka peradaban Islam dalam masa keemasannya. Kemajuan pesat dalam segala bidang kehidupan.

Eropa mencoba keluar dari kegelapannya, dengan melakukan revolusi. Dikenal dengan Reinassance. Mereka melakukan pemisahan antara agama dan Negara. Dalam arti lain, mereka menjauhkan diri mereka dari agama dalam kehidupan sehari-hari. Agama – kristen- mereka anggap sebagai penghambat kemajuan. Saat Dark Ages di eropa, pengetahuan hanya berada di biara-biara. Keberadaan sekolah pun cuma sedikit.

Bila mereka menjauh dari agama mereka, dalam hal ini, Kristen, maka mereka merasakan kemajuan. Sebaliknya bila umat islam menjauh dari islam apalagi mencabut dari dirinya maka kehancuran yang bakal didapat.

Mari kita tengok apa yang terjadi di dunia Islam pada abad pertengahan(penanggalan masehi) dimana di saat yang sama masa kegelapan sedang terjadi di Eropa. Hal yang bertolak belakang dengan yang terjadi di eropa banyak kita temui.

Sebagai contoh, di Baghdad antara 764AD dan 869AD, penguasa, Khalifah Harun Al Rasyid memiliki sebuah perpustakaan yang berisi enam ratus ribu buku. Suatu jumlah yang sangat besar. Tidak seperti para penguasa Eropa pada waktu itu, yang sebagian besar buta huruf, Khalifah Harun Al Rasyid sarjana/cendekiawan yang baik, fasih di dalam sains dan filsafat.
Kumpulan cerita berjudul The Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights dibuat dengan latar belakang istana Khalifah Harun Al Rasyid.

Dimana saat ini kita mengenal Belanda yang Eropa sebagai negeri kincir angin, Dunia Islam sudah jauh lebih dahulu menggunakannya secara masal. Sejarawan Joseph Needham menulis, “sejarah kincir angin benar-benar diawali oleh kebudayaan Islam”. Negeri Islam punya banyak daerah yang kering dimana air terbilang langka. Di daerah yang kekurangan air tetapi memiliki angin yang stabil, kincir angin dapat dikembangkan sebagai alternatif sumber energi untuk industri. Pengembangan teknologi kincir angin dimuat jelas dalam Kitab al-Hiyal karya Banu Musa bersaudara. Dan kincir angin pertama kali digunakan di propinsi Sistan, Iran timur sebagaimana dicatat oleh geografer Istakhri pada abad ke-9 M. Perhatikan, ini sudah terjadi jauh sebelum Renaisans di eropa yang baru muncul pada tahun 1500. Di Spanyol, saat dikuasai Islam, tercatat dalam Kitab al-Rawd al Mi’tar (Kitab Taman yang Haram) karya al-Himyari pada tahun 661 H / 1262 M, telah menggunakan kincir angin.

Memang beberapa pihak berpendapat bahwa kincir angin eropa adalah asli eropa, akan tetapi kemunculannya adalah jauh-jauh terlambat dibandingkan di dunia islam.

Dalam abad pertengahan (Dark Ages) sains yang telah berkembang di masa zaman klasik eropa dipinggirkan dan dianggap lebih sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari ketuhanan. Itulah terjadi di eropa.

Kebangkitan besar dalam bidang keebudayaan dan ilmu pengetahuan di negeri-negeri Islam terjadi karena dalam Islam para pengikutnya tidak diwajibkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi atau kekayaan. Harta, hiburan, makanan lezat dan intelektual, seperti matematika, astronomi yang mungkin dalam agama lain diartikan sebagai hal diluar agama (sekular), semua hal tersebut menjadi bagian integral dari kehidupan dan budaya Islam.

Kebudayaan lain diluar Islam saat itu, seperti Yunani, Persia dan India dipelajari dan dikembangkan.

Ilmuwan muslim mempelajari botani dan menulis banyak buku yang berhubungan dengan tanaman, bagaimana mereka tumbuh dan bagaimana cuaca mempengaruhi mereka

Ahli zoologi Muslim mempelajari binatang, terutama kuda, dan memberikan pengetahuan kepada mereka dan dokter ahli bedah hewan.

Observatorium untuk mengamati langit pertama kali dibangun oleh umat Islam di abad ke-10 Masehi di Baghdad, Damaskus dan Maraghash di Persia. Di sana, para astronom mengamati bintang-bintang, planet dan meteor dengan bantuan kompas dan kuadran untuk mengukur sudut. Dapat kita lihat bahwa ini terjadi jauh-jauh sebelum Galielo Galilei lahir atau bahkan Copernicus hadir.

Para Ilmuwan muslim juga menggunakan astrolabes, yang berguna untuk mengukur ketinggian, dan gerakan benda-benda langit. Astrolabes diapakai sebagai instrumen utama untuk navigasi di laut sampai sextant ditemukan pada abad ke-17. Ini pun terdapat keterangan bahwa salah satu jenis sextant, yaitu mural sextant telah dibangun pertama kali di Ray, Iran, oleh Abu Mahmud Al-Khunjani. Astronom muslim saat juga telah mampu menghitung hampir persis ukuran keliling bumi.

Galileo Galilei (1546-1642) dengan pahamnya bahwa matahari sebagai poros tata surya (heliosentrisme), bersebrangan dengan gereja saat itu yang berpaham bahwa bumi adalah pusat tata surya. Dianggap dapat merusak iman Kristen walhasil Galileo diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. sehingga harus mendekam dipenjara. Ini adalah salah satu contoh, dimana gereja berkuasa penuh atas kehidupan umatnya yang malah membawa kemunduran bagi eropa.

Dalam bidang kedokteran dan obat-obatan, dunia Islam sudah sangat jauh maju meninggalkan eropa. Pada sekitar abad 11 Masehi, para Dokter eropa hanya sedikit lebih pintar dari tukang jagal. Mereka memotong kaki orang yang terluka dengan kapak, menggosok garam ke dalam luka-luka, dan memotong silang (cut-crosses) tulang tengkorak pasien penderita tuberkolosis atau demam. Tidak heran, banyak pasien mereka yang akhirnya mati.

Mari kita petik hikmah bahwa agama mereka membawa kemunduran, sementara agama Islam membawa kegemilangan. Maka sudah sewajarnya kita benar-benar menjalankan Islam kita ini dalam segala aspek kehidupan sehingga mendapatkan kesuksesan dunia akhirat – insya Allah.

Referensi:

http://id.wikipedia.org

http://www.gutenberg.org/author/Nicolaus+Copernicus

^ O’Connor, John J.; Robertson, Edmund F., "Abu Mahmud Hamid ibn al-Khidr Al-Khujandi", MacTutor History of Mathematics archive, http://www-history.mcs.st-andrews.ac.uk/Biographies/Al-Khujandi.html.

http://middleeasternhistory.suite101.com/article.cfm/the_splendours_of_islam_in_medieval_times#ixzz0Z4nNIKF4

http://www.white-history.com/hwr42.htm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.