15 December 2009

Jadi Apa kita Dengan Sekularisasi

Penulis: Rifky Ramdhoni

Pippa Norris dan Ronald Inglehart, menulis dalam buku The Secularization Debate, mengenai definisi dari Sekularisasi. “Secularization (or Secularisation) refers to the transformation of a society from close identification with religious values and institutions toward non-religious (or "irreligious") values and secular institutions. Secularisation thesis refers to the belief that as societies progress, particularly through modernization and rationalization, religion loses its authority in all aspects of social life and governance.[1]
Dari definisi di atas dapat lihat bahwa akhirnya sekularisasi adalah kesombongan manusia terhadap Allah. Bahkan bisa menjadi atheis, tidak percaya keberadaan Allah. Agama, dari definisi diatas harus minggir dari seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam bidang pemerintahan.

Bila agama dipinggirkan, dibuang jauh-jauh, maka apa yang dipakai sebagai timbangan baik-buruk, salah-benar dalam kehidupan? Para penganut paham sesat ini menepuk dada bahwa manusia adalah sebagai timbangannya. Manusia mana yang pantas jadi timbangan? Pada akhirnya orang-orang ini akan sampai pada titik kehilangan timbangan. Kemudian memang mereka menganut paham relativisme, tidak ada lagi kebenaran, tidak ada lagi salah, semua menjadi serba relatif.

Apakah berbahaya? Tentu saja. Saya akan ambil contoh ekstrim. Misalnya, Seorang pria sekular secara jelas memperkosa seorang wanita. Dalam pandangan orang sekular yang menganut paham relativisme maka pria ini tidak akan bisa disalahkan. Karena dia melepas diri dari semua timbangan kecuali timbangan hawa nafsu nya, dia akan memberi penilaian bahwa perbuatan itu adalah hak nya. Dia bisa berkata : “Siapa yang berhak menghukumi saya? Tidak ada! Ini Hak saya! Menurut saya ini adalah tidak apa-apa. Siapa bilang menyetubuhi secara paksa seorang wanita yang belum saya nikahi adalah terlarang? Hukum negara? Negara tidak berhak menghukumi saya. Ini adalah urusan saya dengan Tuhan, bilapun Tuhan itu ada. Anda tidak berhak menghukumi saya. Bila anda menghukumi saya maka anda berlagak seperti Tuhan. Menurut saya ini adalah hal biasa saja, walau menurut anda adalah salah. Memangnya anda berhak menilai saya benar atau salah?”

Tentu anda juga dapat membayangkan bila seorang pencuri merampok uang negara ratusan trilyun maka si pencuri itu akan berkilah atas nama paham sekular bahwa ia tidak berhak dihukumi. Dalam Islam, dan agama-agama samawi didapati bahwa mencuri adalah kesalahan. Karena si pencuri menolak agama maka dia merasa tidak berhak dihukumi. Padahal apa yang akan dia pakai sebagai timbangan salah dan benar?

Dalam literatur islam tidak akan ditemui sekularisasi, yaitu pemisahan islam dari kehidupan muslim. Konsep ini hanya dapat ditemui dalam dunia kristen. Sekularisasi ini kemudian dipaksakan masuk ke dalam islam dan diterima dengan bangga oleh segelintir orang yang masih mengaku muslim pada akhir abad 20 ini. Padahal Islam adalah satu paket menyeluruh untuk kehidupan manusia. Tidak bisa dipisah-pisahkan. Bila sudah dipisah-pisahkan antara Islam dan kehidupan maka rusaklah Islamnya dan bahkan bisa dikata lenyaplah Islam. Naudzubillah.

Masyarakat sekular eropa, marilah kita lihat ada apa dengan mereka. Free sex, narkotika, homosexual, lesbian, perampasan hak, eksploitasi manusia(bila tidak ingin disebut perbudakan), riba, pornografi adalah contoh hal-hal yang menjadi legal dikehidupan mereka. Apakah kita ingin seperti mereka dengan menjadi sekular?

Mereka mengatakan bahwa same-sex marriage adalah hak asasi manusia. Lihatlah sekularisasi, kemudian melahirkan anak setan yang bernama hak asasi manusia.

Pada October 1989, Denmark menjadi negara pertama yang memperkenalkan “same sex union” dalam bentuk registered partnerships. Di tahun 2001, Netherlands menjadi negara pertama yang membolehkan perkawinan sejenis. Di tahun 2003 Belgia pun mengekor, Spanyol (2005), Canada (2005), Norwegia dan Swedia (2009).[2]

Parlemen Kanada menyetujui pemberian dan pengakuan atas perkawinan sejenis dengan mendefinisikan perkawinan sebagai "persatuan sah dua orang dengan mengesampingkan semua orang lain" pada bulan Juli 2005. Sebuah gerak Pemerintah Konservatif mengundang anggota parlemen untuk meminta pencabutan perkawinan sejenis di Kanada gagal pada Desember 2006, sehingga perkawinan sesama jenis terus berlanjut di Kanada.. [3] . Wahai muslim! Apakah kita ingin seperti mereka?

Aliran-aliran sesat yang marak di Indonesia sebenarnya adalah salah satu hasil dari sekularisasi. Karena negara membiarkan aliran sesat tersebut berkembang, menghina, menodai ajaran Islam yang lurus. Negara dianggap tidak boleh mencampuri urusan agama. Negara betul-betul terpisah dari agama. Sementara Islam juga adalah termasuk bagaimana mengurus negara. Atas nama demokrasi negara membiarkan penghinaan terhadap Rasulullah SAW. Bahkan menjadi terbalik, para ulama, ustadz yang menyuarakan pelurusan aqidah ditangkapi karena dianggap menyebarkan kebencian, melanggar hak orang (sesat) menjalankan keyakinannya.

  1. ^ The Secularization Debate Pippa Norris and Ronald Inglehart, Sacred and Secular. Religion and Politics Worldwide, CambridgeUniversity Press, 2004. Chapter 1.
  2. ^ "Hindustan Times" (a news outlet in India) Article dated November 19, 2008
  3. ^ Canadians for Equal Marriage News Article dates December 7, 2006

14 December 2009

Islam Membawa Kemajuan bukan Kemunduran

Written By: Rifky Ramdhoni

Para orientalis dan munafikin berpropaganda bahwa dengan memegang teguh Islam menghalangi manusia mencapai kemajuan. Paling tidak ada dua sebab mereka berkata demikian.

Pertama adalah mereka ingin menyembunyikan kegemilangan dan kesuksesan peradaban Islam agar menjauhkan Islam dari ummatnya. Padahal mereka mengetahui bahwa Islam akan mengantarkan kepada kejayaan. Dengan jauhnya atau bahkan tercerabutnya Islam dari ummatnya maka akan mencegah ummat mencapai kesuksesan. Maka peradaban barat tetap berkuasa di dunia. Mereka ingin menjadikan ummat islam inferior dengan lupa terhadap sejarahnya sendiri. Padahal Allah sendiri menjanjikan keberuntungan dan kesuksesan bagi orang-orang beriman.

Kedua adalah bahwa mereka mengambil pelajaran dari Dark Ages (masa kegelapan) eropa. Di mana era itu terjadi karena diterapkannya system theocracy –kristen sebagai satu-satunya petunjuk jalan dalam setiap bidang kehidupan. Hal ini menurut mereka menyebabkan kemandekan dalam berbagai bidang kehidupan, budaya, teknologi, dan ilmu pengetahuan. Christian Bible dianggap sebagai pusat dari seluruh masa kegelapan itu. Dari pengalaman mereka, orang eropa, bahwa agama membawa mereka kepada “gelap”.

Saat eropa banyak mengangap Ilmu pengetahuan dan sebagai sihir, ilmu kedokteran mereka hanya sedikit lebih baik dari tukang jagal, dan buta huruf menjangkiti para raja dan elit eropa, maka di Andalusia sebagai negeri muslim adalah sebaliknya. Tercatat dalam sejarah bahwa saat memasuki jalan-jalan di Andalusia di waktu malam begitu indah terang gemerlap. Bangunan indah seakan menjadi pemandangan di setiap sudut kota. Orang-orang eropa yang menemui kesulitan dalam bidang ilmu pengetahuan tertentu akan datang ke Andalusia untuk mendapatkan pemecahannya. Semua orang berlomba-lomba untuk tinggal di kota metropolitan ini.Turky dianggap sebagai contoh dari gemerlapnya negara muslim yang modern, berhasil meninggalkan ke-kuno-an. Maksud modern orang-orang barat ini terhadap Turki adalah tumbangnya kekhalifahan Utsami dan menjadikan Turki sebagai negara sekuler. Lalu apa yang terjadi setelah Turki menjadi sekuler? Ben Lombardi dari Directorate of Strategic Analysis in the Department of National Defence, Ottawa, Canada, menggambarkan beberapa implikasi dari filosofi politik Ataturk (laknatullah):

�Ataturk also believed that the transformation of Turkey from an Islamic state into a secular republic was essential to the process of modernization. Authority should not, he asserted, rest on its connection to religious faith. The Caliphate and the Shariah, or Moslem holy law, were therefore abolished; education in public schools was to be strictly secular and focused on the pre-Islamic (pre-Ottoman) Turkish past; outward displays of religious faith were prohibited.�[3]

Sudah tak terhitung jumlah kebrutalan dari rezim jahat Attaturk ini terhadap Islam. Pelarangan adzan, pelarangan jilbab, penangkapan orang-orang berjenggot, pelarangan penggunaan bahasa arab, penyiksaan, pembunuhan dan kejadian bejat lainnya.

Pada October 1998, 75 orang mahasiswa ditangkap setelah berpartisipasi dalam demonstrasi di MalatyaUniversity melawan pelarangan jilbab. 51 orang dituntut hukuman mati, karena dianggap mencoba membuang konstitusi sekuler Negara, dan menuntut 15 tahun penjara bagi 24 orang lainnya.

Gulan Intisar Saatcioglu (16 tahun) adalah salah satu orang yang dituntut hukuman mati. Dia dianggap terlibat karena membacakan puisi berjudul Song of Freedom� dalam demonstrasi tersebut. Dua dari saudara perempuannya dan juga ibunya, seorang journalist bernama Huda Kaya, juga menghadapi hukuman mati.

Akibat dari jatuhnya kekhalifahan di Turki, dan turki menjadi negara sekuler, hal ini juga berakibat bukan hanya kepada muslim tapi juga kafir di Turki.

The New York Times melaporkan bahwa menurut statistic terakhir, populasi Kristen di Turki menyusut 4,500,000 pada awal abad ini menjadi hanya sekitar 150,000. Dari jumlah itu, orang Yunani (Greeks) tidak lebih dari 7,000. Dimana sebelumnya pada tahun 1923 jumlah mereka sekitar 1.2 million.�[4]

Berarti kemana jumlah sebanyak sekitar 4,350,000 orang lainnya? Kemana mereka? Sejarah mencatat bahwa Attaturk melakukan pembersihan etnis. Hanya 5 tahun setelah pembunuhan masal terhadap orang Kristen yang terjadi di sana, meletuslah Armenian Genocide. [5] Hal yang insya Allah tidak akan terjadi di dalam naungan Khilafah Islamiyah. Dimana kaum non-muslim akan mendapatkan perlindungan bagai rumah sendiri dari pemerintahan Khilafah Islamiyah.

Opium, sebagai narkotika, yang dimanapun orang beradab berada maka akan mengatakan bahwa opium adalah berbahaya dan merusak. Saat Thaliban berkuasa di Afghanistan maka opium menjadi terlarang, karena memang demikian kedudukannya dalam Islam. Tapi kini barang terlarang tersebut kita menjadi salah satu penghasilan terbesar dari masyarakat Afghanistan. Dalam Undang-Undang yang diterapkan oleh Afghanistan, adu anjing adalah terlarang, karena memang begitulah kedudukannya dalam Islam, tapi kemudian sekarang penyiksaan binatang ini kembali marak. Begitu juga dengan Pornography, kini marak. Apakah ini yang disebut kemajuan? Umbar aurat, narkotika, penyiksaan binatang? Bukankah ini lebih tepat masa jahiliyah?

Dengan Islam, rakyat tidak ditinggalkan setelah pemimpin terpilih. Tidak seperti dalam sistem sekuler, demokrasi, dimana rakyat hanya menjadi alat penghantar menuju kekuasaan yang kemudian dicampakkan. Dalam islam, negara betul-betul menguasai kekayaan alam untuk dipergunakan demi kepentingangan rakyat. Bukan seperti dalam sistem sekuler yang akhirnya atas nama liberalisasi menjual asset negara dan kekayaan negara sehingga dikuasai pihak asing.

Dunia ini adalah ciptaan Allah SWT, dan Dia lah yang Maha Mengetahui atas segala sesuatu. Ketika hukum Allah disingkirkan dan manusia dengan arogannya menggantinya dengan hukum buatan sendiri, hasil karya sendiri, dari kepalanya sendiri yang otaknya tidak lebih besar dari tempurung kelapa maka apa jadinya dunia ini.

Dunia Islam memiliki kemajuannya sendiri, dengan definisinya sendiri, dan konsepnya sendiri yang terbukti gemilang, membawa manusia menjadi manusia beradab. Wallahu a’lam.

Referensi:

  1. http://www.white-history.com/hwr41.htm
  2. Jurnal Islamia
  3. Lombardi, Ben, �Turkey: Return of the Reluctant Generals�, Political Science Quarterly, Summer 1997, Vol. 112, No. 2.
  4. New York Times, 26 November 1979
  5. Dariotis, George J. and Spyropoulos, P. D., American Hellenic Educational Progressive Association (AHEPA) letter to John McLaughlin of the Washington-based McLaughlin Group, 6 January 2000, http://www.ahepa.org.
  6. Nando Times (Ankara), 22 June 1999; IHRC Press Release, �Protestors Face Death Penalty: IHRC Observer Returns from Landmark Trial in Turkey�, Islamic Human Rights Commission, Wembley, 23 June 1999. See IHRC, Report of IHRC Observer into the legal proceedings against Huda Kaya and the Malatya 75, Islamic Human Rights Commission, Wembley, July 1999

11 December 2009

“Chemical industries” Abad Pertengahan

Tahukah anda bahwa para scientist muslim begitu berjaya dalam penemuan-penemuan dunia kimia? Berikut ini dapat kita nikmati paparan prestasi dari Dunia Muslim pada abad pertengahan eropa (The Dark Ages). Dimana saat itu Dunia Islam memiliki kekhalifahan. Ini adalah bukti, bahwa islam mengantarkan pada kesuksesan bukan kemunduran. Dan bagi kaum yang berpendapat kehidupan dengan islam akan membawa kemunduran silahkan pergi kelaut untuk ditelan ikan hiu. Selamat menikmati.

Jabir ibn Hayyan (Geber), disebut sebagai “Bapak”nya kimia (the "father of chemistry"), menemukan alembic still dan banyak zat kimia, termasuk distilled alcohol, dan membangun industri parfum

Muhammad ibn Zakariya ar-Razi (Rhazes) mengisolasi banyak substansi kimia, memproduksi banyak ragam obat-obatan, dan menggambarkan banyak laboratory apparatus.

Laboratory setup untuk distilasi uap (steam distillation), ditemukan oleh Avicennadi abad 11 masehi. Sementara kita tahu apa yang sedang terjadi di eropa pada abad ini, yaitu the Dark Ages.

Aqua regia pertamakali di isolasi oleh Jabir ibn Hayyan (Geber).

Hydrochloric acid, a mineral acid, pertama kali diisolasi oleh Jabir ibn Hayyan (Geber).

Nitric acid, a mineral acid, pertama kali diisolasi oleh Jabir ibn Hayyan (Geber).

Sulfuric acid, a mineral acid, pertama kali diisolasi oleh Jabir ibn Hayyan (Geber).

Arsenic, sebuah elemen kimia pertama kali diisolasi oleh Jabir ibn Hayyan (Geber) di abad 8 masehi

Bentuk awal dari distilasi diketahui berasal dari Babylonians, Yunani dan Mesir sejak jaman kuno , tapi muslimlah yang pertama kali menemukan proses distilasi murni yang mampu secara utuh memurnikan substansi kimia. Dunia Islam juga yang pertama kali membangun beberapa variasi distilasi (seperti dry distillation, destructive distillation dan steam distillation) serta distillation aparatus baru (seperti alembic, still, dan retort), juga menemukan ragam jenis proses kimia. Muslim pula yang menemukan lebih dari 9,000 chemical substances.[1]

Will Durant memaparkan dalam bukunya The Story of Civilization IV: The Age of Faith:

"Chemistry sebagai ilmu pengetahuan hampir-hampir seluruhnya diciptakan oleh Dunia Islam; karena dalam bidang ini, di mana orang-orang Yunani (sejauh yang kita ketahui) yang terbatas pada pengalaman industri dan hipotesis yang samar-samar, orang-orang Saracen memperkenalkan observasi yang tepat, eksperimen terkontrol, dan catatan yang cermat.

Mereka-Muslim, menciptakan dan menamai alembic (al-anbiq), zat-zat kimia yang tak terhitung banyaknya dianalisis, mengkomposisi lapidaries, membedakan alkali dan asam, diselidiki kesamaan alkali dan acid, belajar dan diproduksi ratusan obat-obatan. Alchemy, yang diwarisi umat Islam dari Mesir, berkontribusi dengan seribu penemuan insidental, dan dengan oleh metode, yang mana adalah paling ilmiah di abad pertengahan dari semua operasi [2]

Robert Briffault menuliskan dalam bukunya The Making of Humanity:

“Kimia, dasar-dasar yang muncul dalam proses-proses yang digunakan oleh metallurgists serta pembuat perhiasan dari bangsa Mesir yaitu menggabungkan logam ke dalam berbagai paduan dan menyepuhnya menyerupai emas, proses nya dalam jangka waktu yang lama menjadi rahasia dan monopoli dari para biarawan, namun kemudian berkembang di tangan orang-orang Arab dan menjadi meluas,semangat penelitian yang terorganisir membawa mereka ke penemuan penyulingan, sublimasi, filtrasi, penemuan alkohol, nitrat dan asam sulfat (satu-satunya asam yang diketahui orang dahulu itu cuka ), alkali, garam merkuri, antimon dan bismut, serta meletakkan dasar dari semua penelitian kimia dan fisika dikemudian hari.” [3]

Chemical processes

The following chemical processes were invented by Muslim chemists:

Acids

Elements

  • Arsenic: pertamakali di isolasi oleh Jabir ibn Hayyan (Geber) di abad 8 Masehi.[11]
  • Antimony: pertamakali di isolasi oleh Jabir ibn Hayyan (Geber).[8][11]

Referensi:

  1. S. Hadzovic (1997). "Pharmacy and the great contribution of Arab-Islamic science to its development", Med Arh. 51 (1-2), p. 47-50.
  1. Will Durant (1980). The Age of Faith (The Story of Civilization, Volume 4), p. 162-186. Simon & Schuster. ISBN 0671012002.
  1. Robert Briffault (1938). The Making of Humanity, p. 195.
  1. ^ Diane Boulanger (2002), "The Islamic Contribution to Science, Mathematics and Technology: Towards Motivating the Muslim Child", OISE Papers in STSE Education, Vol. 3.
  2. ^ a b c d e f g h i Paul Vallely, How Islamic Inventors Changed the World, The Independent, 11 March 2006.
  3. ^ a b c Marlene Ericksen (2000), Healing with Aromatherapy, p. 9, McGraw-Hill Professional, ISBN 0658003828
  4. ^ Eser Eke Bayramoglu, Gürbüz Gulumser, İsmail Karaboz (2008), "The Investigation of Antibacterial Activities of Some Essential Oils in Wet Blue Leather", International Journal of Natural and Engineering Sciences 2 (1): 33-36 [33]
  5. ^ a b c d e f g h i j Hassan, Ahmad Y. "Transfer Of Islamic Technology To The West, Part III: Technology Transfer in the Chemical Industries". History of Science and Technology in Islam. http://www.history-science-technology.com/Articles/articles%2072.htm. Retrieved 2008-03-29.
  6. ^ Ahmad Y Hassan, The Colouring of Gemstones, The Purifying and Making of Pearls, And Other Useful Recipes
  7. ^ a b c d e George Rafael, A is for Arabs, Salon.com, January 8, 2002.
  8. ^ a b c Sarton, George, Introduction to the History of Science (cf. Dr. A. Zahoor and Dr. Z. Haq (1997), Quotations From Famous Historians of Science)
  9. Derewenda, Zygmunt S. (2007), "On wine, chirality and crystallography", Acta Crystallographica Section A: Foundations of Crystallography 64: 246–258 [247]
  10. ^ Olga Pikovskaya, Repaying the West’s Debt to Islam, BusinessWeek, March 29, 2005
  11. ^ a b c d e f g h i Ahmad Y Hassan, Transfer Of Islamic Technology To The West, Part II: Transmission Of Islamic Engineering, History of Science and Technology in Islam
  12. ^ Khairallah, Amin A. (1946), Outline of Arabic Contributions to Medicine, chapter 10, Beirut

Disusun oleh: Rifky Ramdhoni

9 December 2009

Saat Eropa Gelap, Dunia Islam Gemilang

Penulis: Rifky Ramdhoni

Saat eropa dalam masa kegelapannya (dark ages) maka peradaban Islam dalam masa keemasannya. Kemajuan pesat dalam segala bidang kehidupan.

Eropa mencoba keluar dari kegelapannya, dengan melakukan revolusi. Dikenal dengan Reinassance. Mereka melakukan pemisahan antara agama dan Negara. Dalam arti lain, mereka menjauhkan diri mereka dari agama dalam kehidupan sehari-hari. Agama – kristen- mereka anggap sebagai penghambat kemajuan. Saat Dark Ages di eropa, pengetahuan hanya berada di biara-biara. Keberadaan sekolah pun cuma sedikit.

Bila mereka menjauh dari agama mereka, dalam hal ini, Kristen, maka mereka merasakan kemajuan. Sebaliknya bila umat islam menjauh dari islam apalagi mencabut dari dirinya maka kehancuran yang bakal didapat.

Mari kita tengok apa yang terjadi di dunia Islam pada abad pertengahan(penanggalan masehi) dimana di saat yang sama masa kegelapan sedang terjadi di Eropa. Hal yang bertolak belakang dengan yang terjadi di eropa banyak kita temui.

Sebagai contoh, di Baghdad antara 764AD dan 869AD, penguasa, Khalifah Harun Al Rasyid memiliki sebuah perpustakaan yang berisi enam ratus ribu buku. Suatu jumlah yang sangat besar. Tidak seperti para penguasa Eropa pada waktu itu, yang sebagian besar buta huruf, Khalifah Harun Al Rasyid sarjana/cendekiawan yang baik, fasih di dalam sains dan filsafat.
Kumpulan cerita berjudul The Seribu Satu Malam atau The Arabian Nights dibuat dengan latar belakang istana Khalifah Harun Al Rasyid.

Dimana saat ini kita mengenal Belanda yang Eropa sebagai negeri kincir angin, Dunia Islam sudah jauh lebih dahulu menggunakannya secara masal. Sejarawan Joseph Needham menulis, “sejarah kincir angin benar-benar diawali oleh kebudayaan Islam”. Negeri Islam punya banyak daerah yang kering dimana air terbilang langka. Di daerah yang kekurangan air tetapi memiliki angin yang stabil, kincir angin dapat dikembangkan sebagai alternatif sumber energi untuk industri. Pengembangan teknologi kincir angin dimuat jelas dalam Kitab al-Hiyal karya Banu Musa bersaudara. Dan kincir angin pertama kali digunakan di propinsi Sistan, Iran timur sebagaimana dicatat oleh geografer Istakhri pada abad ke-9 M. Perhatikan, ini sudah terjadi jauh sebelum Renaisans di eropa yang baru muncul pada tahun 1500. Di Spanyol, saat dikuasai Islam, tercatat dalam Kitab al-Rawd al Mi’tar (Kitab Taman yang Haram) karya al-Himyari pada tahun 661 H / 1262 M, telah menggunakan kincir angin.

Memang beberapa pihak berpendapat bahwa kincir angin eropa adalah asli eropa, akan tetapi kemunculannya adalah jauh-jauh terlambat dibandingkan di dunia islam.

Dalam abad pertengahan (Dark Ages) sains yang telah berkembang di masa zaman klasik eropa dipinggirkan dan dianggap lebih sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari ketuhanan. Itulah terjadi di eropa.

Kebangkitan besar dalam bidang keebudayaan dan ilmu pengetahuan di negeri-negeri Islam terjadi karena dalam Islam para pengikutnya tidak diwajibkan untuk meninggalkan kehidupan duniawi atau kekayaan. Harta, hiburan, makanan lezat dan intelektual, seperti matematika, astronomi yang mungkin dalam agama lain diartikan sebagai hal diluar agama (sekular), semua hal tersebut menjadi bagian integral dari kehidupan dan budaya Islam.

Kebudayaan lain diluar Islam saat itu, seperti Yunani, Persia dan India dipelajari dan dikembangkan.

Ilmuwan muslim mempelajari botani dan menulis banyak buku yang berhubungan dengan tanaman, bagaimana mereka tumbuh dan bagaimana cuaca mempengaruhi mereka

Ahli zoologi Muslim mempelajari binatang, terutama kuda, dan memberikan pengetahuan kepada mereka dan dokter ahli bedah hewan.

Observatorium untuk mengamati langit pertama kali dibangun oleh umat Islam di abad ke-10 Masehi di Baghdad, Damaskus dan Maraghash di Persia. Di sana, para astronom mengamati bintang-bintang, planet dan meteor dengan bantuan kompas dan kuadran untuk mengukur sudut. Dapat kita lihat bahwa ini terjadi jauh-jauh sebelum Galielo Galilei lahir atau bahkan Copernicus hadir.

Para Ilmuwan muslim juga menggunakan astrolabes, yang berguna untuk mengukur ketinggian, dan gerakan benda-benda langit. Astrolabes diapakai sebagai instrumen utama untuk navigasi di laut sampai sextant ditemukan pada abad ke-17. Ini pun terdapat keterangan bahwa salah satu jenis sextant, yaitu mural sextant telah dibangun pertama kali di Ray, Iran, oleh Abu Mahmud Al-Khunjani. Astronom muslim saat juga telah mampu menghitung hampir persis ukuran keliling bumi.

Galileo Galilei (1546-1642) dengan pahamnya bahwa matahari sebagai poros tata surya (heliosentrisme), bersebrangan dengan gereja saat itu yang berpaham bahwa bumi adalah pusat tata surya. Dianggap dapat merusak iman Kristen walhasil Galileo diajukan ke pengadilan gereja Italia tanggal 22 Juni 1633. sehingga harus mendekam dipenjara. Ini adalah salah satu contoh, dimana gereja berkuasa penuh atas kehidupan umatnya yang malah membawa kemunduran bagi eropa.

Dalam bidang kedokteran dan obat-obatan, dunia Islam sudah sangat jauh maju meninggalkan eropa. Pada sekitar abad 11 Masehi, para Dokter eropa hanya sedikit lebih pintar dari tukang jagal. Mereka memotong kaki orang yang terluka dengan kapak, menggosok garam ke dalam luka-luka, dan memotong silang (cut-crosses) tulang tengkorak pasien penderita tuberkolosis atau demam. Tidak heran, banyak pasien mereka yang akhirnya mati.

Mari kita petik hikmah bahwa agama mereka membawa kemunduran, sementara agama Islam membawa kegemilangan. Maka sudah sewajarnya kita benar-benar menjalankan Islam kita ini dalam segala aspek kehidupan sehingga mendapatkan kesuksesan dunia akhirat – insya Allah.

Referensi:

http://id.wikipedia.org

http://www.gutenberg.org/author/Nicolaus+Copernicus

^ O’Connor, John J.; Robertson, Edmund F., "Abu Mahmud Hamid ibn al-Khidr Al-Khujandi", MacTutor History of Mathematics archive, http://www-history.mcs.st-andrews.ac.uk/Biographies/Al-Khujandi.html.

http://middleeasternhistory.suite101.com/article.cfm/the_splendours_of_islam_in_medieval_times#ixzz0Z4nNIKF4

http://www.white-history.com/hwr42.htm

1 December 2009

Indonesia Lebih Neoliberal Dibandingkan AS

Oleh Arim Nasim

Menanggapi tulisan Adriansyah tentang “Indonesia masih jauh dari Neoliberalisme” (”PR”, 12/6) yang menyatakan “Apakah Indonesia sudah jatuh pada perangkap neoliberal, mutlak dipertanyakan.” Hanya dengan merujuk kepada survei Heritage Foundation (suatu think tank yang concern dengan ekonomi pasar bebas), menempatkan Indonesia pada kategori negara yang ekonominya tidak bebas, karena dianggap masih banyak regulasi di sektor perdagangan, tenaga kerja, permodalan, dan kepemilikan negara atas aset-aset publik.
Sebenarnya, corak pembangunan ekonomi Indonesia yang neoliberal sudah tidak ada dan meragukan lagi bahkan Soeharsono Sagir pun dalam opini Pikrian Rakyat (27/5) menyatakan “Menurut pendapat saya, negara kita bebas dari virus neoliberalisme, jika kita mampu mencapai fundamental ekonomi kuat dan berkelanjutan”. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi Indonesia selama ini bukan saja bercorak neoliberalisme, tetapi justru malah lebih neoliberal dibandingkan dengan Amerika Serikat sendiri sebagai negara pengusung neoliberal. Keep reading →